Tuesday, December 23, 2008

Awal Mula Terjadinya Pawukon (zodiak Jawa)

0 comments

Ketika Batara Guru mendengar bahwa Raja Gilingwesi akan naik ke Suralaya, segera memanggil para dewa. Ditawarkan kepada mereka siapakah yang berani menghadapi Prabu Watu-Gunung, namun tidak ada satu pun diantara para dewa yang berani. Sanghyang Narada menyarankan agar Batara Guru memanggil Batara Wisnu, putranya, dan dijanjikan, jika mampu mengalahkan Prabu Watu-Gunung kesalahannya dimaafkan dan dosanya dihapuskan. Batara Guru menerima saran tersebut, maka diutuslah Sanghyang Narada turun ke bumi menemui Batara Wisnu yang sedang bertapa di bawah pohon beringin tujuh. Kesepakatan didapat, bahwa Batara Wisnu sanggup menghadapi Raja Gilingwesi, tetapi ia mohon diijinkan kembali kenegaranya untuk menemui istrinya yang waktu dirinya diusir atas perintah Batara Guru isterinya sedang mengandung. Waktu itu, sebelum Batara Wisnu meninggalkan istrinya, ia berpesan:

“Jika nanti anak tersebut lahir laki-laki, berilah nama Srigati.”

Tentunya jika anak tersebut selamat sekarang telah menjadi jejaka, karena belasan tahun sudah Batara Wisnu bertapa. Betapa gembiranya Batara Wisnu mendapatkan anak dan istrinya dalam keadaan baik dan sehat. Setelah sejenak mereka saling melepas rindu, batara Wisnu memberitahukan bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama karena harus segera ke Suralaya, ada perintah mendesak dari Batara Guru untuk menghadapi Raja Gilingwesi. Bambang Srigati menyatakan diri ingin ikut ayahnya ke Suralaya, namun Batara Wisnu tidak memperbolehkan.

Dengan berat hati batara Wisnu pamit meninggalkan istri dan anaknya, menemui Sanghyang Narada di bawah tujuh pohon beringin. raden Srigati yang ditinggal tersebut menyusul ayahnya. Sesampainya di beringin tujuh, ia duduk di belakang Sanghyang Narada. Setelah mengetahui putranya menyusul, Batara Wisnu berkeinginan mengajak Raden Srigati ke Suralaya. Tetapi Sanghyang Narada tidak memperbolehkan, dikhawatirkan dapat membangunkan murkanya Batara Guru. Akhirnya Srigati ditinggal di bawah beringin tuju. namun secara diam-diam Raden Srigati mengikuti perjalanan Sanghyang Narada dan Batara Wisnu. Setelah sampai di Suralaya dan menghadap Batara Guru, tiba-tiba Raden Srigati telah duduk dibelakang ayahandanya. Ketika melihat ada pemuda tampan, Batara Guru bertanya kepada Sanghyang Narada, siapakah anak muda tampan tersebut. Sanghyang Narada memberitahukan bahwa ia anak Batara Wisnu yang lahir dari rahim putri di Mendang. Mendengar jawaban Sanghyang Narada, Batara Guru sangat murka, ia berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Melihat gelagat yang tidak baik, Sanghyang Narada menyusul Batara Guru. Perintah baru dititahkan, Sanghyang Narada, diminta untuk membunuh Raden Srigati, sebagai tumbal negara, dan memerintahkan batara Wisnu segera menghadang musuh.

Namun sebelum perintah Batara Guru itu terlaksana, diluar terdengar suara gemuruh bersamaan datangnya musuh. Batara Guru gemetar ketakutan, minta pertimbangan kepada Sanghyang Narada, bagaimana sebaiknya. Sanghyang Narada menyarankan agara batara Guru membatalkan niatnya untuk membunuh Raden Srigati. Karena hal tersebut akan membuat Batara Wisnu tidak mau perang menghadang musuh, dengan demikian musuh akan dengan leluasa dapat merusak Suralaya. Batara Guru menuruti saran Sanghyang Narada, dan memutuskan tidak jadi membunuh Raden Srigati. dan segera memerintahkan Batara Wisnu untuk menghadapi musuh.

Batara Wisnu bersama dengan anaknya keluar dari tempat para dewa untuk menghadapi raja Gilingwesi. Setelah berhadap-hadapan dengan prabu Watu-Gunung, sang raja menawarkan perang dengan cara cangkriman (teka-teki). Jika Batara Wisnu dapat menebak cangkrimannya, Prabu Watu-Gunung dengan sukarela menyediakan diri untuk dibunuh. Tetapi jika Batara Wisnu tidak dapat menebak cangkriman, para dewa di Suralaya segera menyerah, dan menyerahkan para bidadari untuk diambil isteri.

Batara Wisnu menuruti apa yang di kehendaki Prabu Watu-Gunung. Maka sang raja membeberkan cangkrimannya. Ada sebuah pohon kecil tetapi buahnya besar dan ada pohon besar tetapi buahnya kecil, pohon apakah itu? Cangkriman tersebut di tebak oleh Batara Wisnu. Bahwa pohon yang kecil besar buahnya adalah pohon semangka. Sedangkan pohon yang besar kecil buahnya adalah pohon beringin. Sang raja tidak mampu berkata-kata, seperti janjinya ia menyerahkan dirinya. Batara Wisnu melepaskan senjata Cakra, dan Prabu Watu-Gunung tewas di medan perang. Balatentara yang berjumlah besar melarikan diri meninggalkan Suralaya.

Sepeninggalnya prabu Watu-Gunung, Dewi Sinta menangis berkepanjangan, hatinya sangat bersedih. Dampak dari kesedihan Dewi Sinta para dewa di Suralaya gelisah hatinya, mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Dan hal tersebut bakal mendatangkan huru-hara besar. Batara Guru bertanya kepada Sanghyang Narada, apa yang menyebabkan gara-gara ini. Sanghyang Narada memberitahukan bahwa penyebabnya adalah menangisnya Dewi Sinta karena bersedih atas meninggalnya Prabu Watu-Gunug. Batara Guru lalu memerintahkan kepada Sanghyang Narada untuk turun menemui Dewi Sinta agar mau menghentikan tangisnya, dan dijanjikan dalam tiga hari Prabu Watu-Gunung akan dihidupkan lagi, dan menjadi raja kembali di Negara Giling-Wesi. karena janji itu Dewi Sinta menghetikan tangisnya, dan saat itu juga sasana di Suralaya menjadi tenang kembali.

Namun setelah sampai tiga hari, Prabu Watu-Gunung tidak kelihatan datang, Dewi Sinta nangis kembali, dan mendatangkan kegelisahan dan kekacauan yang lebih besar di Suralaya. Batara Guru bertanya lagi kepada Sanghyang Narada apa penyebabnya gara-gara ini. Sanghyang Narada berkata bahwa gara-gara ini disebabkan oleh hal yang sama yaitu tangis Dewi Sinta, kareana sudah tiga hari Prabu Watu-Gunung belum kembali ke negara Gilingwesi. Kemudian Batara Guru memerintahkan Sanghyang Narada, untuk menghidupkan Prabu Watu-Gunung, serta mengembalikan di negara Gilingwesi.

Setelah Prabu Watu-Gunung dihidupkan oleh Sanghyang Narada, disuruh kembali di Gilingwesi, ia tidak mau, dikarenakan sudah kerasan di surga. Bahkan Prabu Watu-Gunung memohon agar kedua isterinya dan ke 27 anak di angkat ke surga, menjadi satu dengannya. Guru mengabulkan permohonan tersebut, serta memerintahkan agar mengangkat isteri dan anak Prabu Watu-Gunung ke surga.

Proses pengangkatan dua isteri serta 27 anak Prabu Watu-Gunung ke surga dilakukan satu persatu pada setiap minggu. Inilah permulaan adanya 30 wuku yang dijadikan dasar perhitungan Pawukon atau zodiak Jawa.

Tulisan selanjutnya akan dibeberkan satu persatu gambar dan ciri perwatakan dari masing-masing wuku sebanyak 30



Read full post »

Saturday, December 20, 2008

Timun Emas

0 comments

Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.
Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.
Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.
Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.

Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.
Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni.
Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun.
Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa.
Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon banbu yang sangat tinggi dan tajam.
Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya.
Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati.

Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.
" Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.








sumber : http://www.e-smartschool.com
Read full post »

Batara Kala dan Anak Sukerto

0 comments

Siapa yang merasa memiliki “anak Sukerto?” Anak Sukerto dapat dikatakan anak yang memiliki keistimewaan. Tetapi keistimewaan itu dapat mendatangkan mara bahaya bagi anak yang bersangkutan. Namun semua itu sekedar merupakan kepercayaan masyarakat masa lalu secara turun-temurun. Sampai sekarang masih terdapat kepercayaan adanya “anak Sukerto”. Termasuk mereka yang tinggal di kota dan berkehidupan disuasana modern.

“Anak Sukerto” yaitu anak (orang) yang karena kelahirannya atau kedudukannya dalam lingkungan keluarga maupun kejadian dalam hidupnya menjadikan termasuk salah satu yang diperbolehkan menjadi mangsa Batara Kala.

“Sukerto” dari kata “suker” artinyo kotor. “Anak Sukerto” berarti anak yang mempunyai halangan dalam hidupnya.

Mengapa Batara Kala senang memangsa atau makan manusia? Kono singkat kisahnya, di Kahyangan kedatangan Prabu Damarjati melamar Dewi Uma isteri Batara Guru. Lamaran ditolak dan Prabu Damarjati ditanngkap serta dibuang ke Pesisir Kulon. Prabu Darmajati tidak mati, malah berganti rupa puteri cantik bernama Dewi Tenana bertapa di pertapaan Selogumilang. Tujuan tapanya adalah mencari kekuatan untuk membalas dendam Batara Guru. Terjadilah gara-gara di arcapada. Para dewa berusaha menggagalkan tapa Dewi Tenana tetapi sia-sia.

Kegagalan itu disampaikan kepada Batara Guru. Akhirnya Batara Guru diikuti Batara Narada berangkat ke pertapaan Selogumilang untuk menggelandang Dewi Tenana yang membahayakan Marcapada. Dewi Tenana telah tahu, maka perintah kepada Emban Lodayo untuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyongsong kedatangan tamu agung itu.

Dengan suasana pertapaan yang terhias indah, gaya yang lemah gemulai, kata-kata yang masin diterimalah tamu Agung dari Suralaya itu. Niat semula keberangkatan Batara Guru dari kahyangan yang telah penuh kemarahan untuk membinasakan Dewi Tenana menjadi tak berdaya karena sanjungan yang lemah lembut itu. Dalam pandangan Batara Guru, Dewi Tenana adalah cantik menawan dan membangkitkan nafsu berahinya. Dewi Tenana menolak ketika diminta sebagai isteri Batara Guru. Berkobarlah asmara Batara Guru dan terus mendesak sang Dewi. Terjadilah kejar mengejar sampai di tepi samudera. Karena Batara Guru diamuk asmara yang memuncak, maka keluarah kama dan jatuh di samudera. Seketika itu air samudera beruncang dan bergelombang besar.

Dewi Tenana yang terus dikejar, akhirnya timbul marahnya dan mengutuk Batara Guru: “Batara Guru, engkau adalah Dewa Agung, mengapa tidak mampu menahan nafsu dan mengendalikan diri. Watak dan laku perbuatan semacam itu adalah watak raksasa”. Seketika itu pula Batara Guru berwajah raksasa. Ia bingung dan merasa malu jika kembali ke Suralaya. Akhirnya Batara Guru menyesal dan minta agar Dewi Tenana bersedia mengembalikan wajahnya seperti semula. Dewi Tenana menyanggupi asal tidak mengejar lagi. Setelah wajah Batara Guru pulih seperti sedia kala, kembalilah is ke Suralaya tanpa membawa hasil.

Sembilan bulan dari kejadian itu, timbullah angin topan dan deru samudera yang menghempaskan seorang bayi ke pantai. Atas kehendak jagad, bayi itu segera dapat berjalan dan berbicara. Datanglah bayi itu ke pertapaan Selogumilang menemui Dewi Tenana yang sedang membicarakan suara gemuruh dari samudera bersama Emban Lodaya. Atas pertanyaan Dewi Tenana, Sang Bayi mengaku dari tengah samudera dan menanyakan orang tuanya. Dewi Tenana ingat peristiwa masa lalu dan mengaku sang Bagi sebagai puteranya serta menunjukkan bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Kemudian Sang Bayi yang semakin besar itu diperintahkan menghadap Batara Guru serta Emban Lodaya menyertainya.

Kedatangan Sang Bayi yang telah perjaka dan Emban Lodaya di Kahyangan Suralaya dihadang oleh bala tentara Dewa. Terjadilah perang dan tentara Dewa dapat dikalahkan. Sang perjaka dihadapkan pada Batara Guru. Setelah mendengar ceritera dari Sang Bayi yang diperkuat keterangan Emban Lodaya, maka Batara Guru tidak dapat mengingkari perbuatan masa lalunya. Kemudian Batara Guru mengakui sang Perjaka sebagai anaknya dan diberi nama Jajasengkala. Emban Lodaya ditugasi untuk mengasuhnya.

Suatu hari Emban Lodaya memasak bakal santapan Jajasengkala. Pada saat meracik sayuran, jari Emban Lodaya teriris dan darah mengucur bersampur masakannya. Setelah dihidangkan dan dilahap oleh Jajasengkala, ia merasakan kelezatan makanan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka ia meminta agar selalu dihidangkan makanan dengan menu semacam itu.

Hari-hari selanjutnya Jajasengkala selalu marah karena menyantap hidangan tidak sesuai dengan cita rasa yang diinginkan. Kemarahan yang memuncak menimpa Emban Lodaya. Akhirnya Emban Lodaya berterus terang tentang terjadinya masakan yang lezat itu. Mendengar keterangan Emban Lodaya itu, Jajasengkala selalu minta dibuatkan masakan dengan bumbu darah manusia. Apabila perlu bagian badan Emban Lodaya dapat dijadikan bumbu masakannya. Permintaan itu sengan mengerikan perasaan Emban Lodaya dan amat ketakutan.

Kemudian Emban Lodaya melarikan diri dan dikejar oleh Jajasengkala untuk menghadap Batara Guru. Batara Guru merasa heran, mengapa Emban Lodaya dan Jajasengkala berkejaran dan menghadapnya. Setelah mendapat penjelasan dari keduanya, Batara Guru memerintahkan Jajasengkala untuk pergi ke pertapaan Selamangempang menemui Batara Kala. Ia diberi kuasa penuh untuk minta setengah jatah makanan Batara Kala. Apabila permintaan itu ditolak, maka Jajasengkala diijinkan untuk membunuh Batara Kala dan makan daging jatung Batara Kala.

Berangkatlah Jajasengkala ke Selamangempang. Sesampai di Selamangempang semua maksudnya diutarakan kepada Batara Kala. Permintaan itu ditolak dan terjadilah perang tanding yang dasyah karena keduanya berujud raksasa yang besar. Jajasengkala lebih muda dan Batara Kala dapat dibunuh. Jantung Batara Kala dimakan dan sebagian dibawa ke Kahyangan sebagai bukti keberhasilan membunuh Batara Kala. Sesampainya Jajasengkala di Kahyangan, para dewa bergembira ria karena manusia serakah itu telah musnah. Kegembiraan itu terhenti mendengar tuntutan Jajasengkala agar diberi kedudukan dan segala fasilitas sama dengan dewa. Batara Guru dapat menerima tuntutan itu dan memberinya pakaian dewa. Alangkah terkejutnya para dewa, setelah Jajasengkala mengenakan pakaian dewa wajahnya persis seperti Batara Kala. Maka Batara Guru memberinya nama Batara Kala.

Batara kala masih punya tuntutan lain yaitu agar diberi izin makan manusia karena telah merasakan kelezatannya. Apabila tidak diizinkan, maka ia akan mencari cendiri di Arcapada. Setelah berunding dengan para dewa, akhirnya Batara Guru hanya memperbolehkan Batara Kala memakan manusia yang bepergian atau orang ke sungai memakai kerudung ditengah hari atau matahari di atas ubun-ubun. Batara Kala tidak puas, karena merasa belum cukup atau sulit mencari manusia semacam itu. Batara Guru mengkhawatirkan manusia di dunia akan musnah dimangsa Batara Kala. Atas hasil musyawarah dengan para dewa, maka Batara Guru mengijinkan Batara Kala makan “anak sukerto”. Para dewa masih khawatir banyak manusia menjadi makanan Batara Kala, akhirnya Batara Guru memberi syarat. Bagi orang yang bepergian di siang hari dan matahari sudah condong ke barat meskipun baru sedikit, maka tidak boleh dimakan. Hal itu mengisyaratkan pada orang agar berhenti sejenak dari perjalanan menunggu matahari condong ke barat. Bagi “anak sukerto” yang sudah “diruwat” tidak boleh dimakan. Hal itu mengisyaratkan agar orang yang mempunyai “anak sukerto” agar segera “diruwat”. Anak yang termasuk “Sukerto” antara lain:

1. “Julung caplok” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam. Selain menjadi jatah Batara Kala, anak “Julung Caplok” juga merupakan cadangan makanan harimau.
2. “Julung kembang” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.
3. “Ontang anting” yaitu anak tunggal puteri atau putera.
4. “Kendana-kendidi” yaitu dua bersaudara putera dan puteri seayah-seibu.
5. “Uger-uger lawang” yaitu dua bersaudara putera semua seayah-seibu.
6. “Kembang sepasang” yaitu dua bersaudara puteri semua seayah-seibu.
7. “Pandawa” yaitu lima bersaudara putera semua seibu-seayah.
8. “Pandawi” atau “kembang setaman” yaitu lima bersaudara puteri semua seibu-seayah.
9. “Pancuran kapit sendang” yaitu tiga bersaudara terdiri puteri-putera puteri seayah-seibu.
10. “Sedang kapit pancuran” yaitu tiga bersaudara terdiri putera-puteri-putera seayah-seibu.
11. “Runta” yaitu anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.
12. Empat orang bersaudara putera semua seayah-seibu.
13. Empat orang bersaudara puteri semua seayah-seibu.
14. Lima bersaudara terdiri seorang putera, empat puteri seayah-seibu.
15. Lima bersaudara terdiri seorang puteri, empat putera seayah-seibu.

Selain anak seperti itu masih terdapat anak atau orang yang menjadi jatah Batara Kala, misalnya anak jatuh dari gendongan, orang bepergian jauh sendirian atau “bathang lelaku” (mayat berjalan) dan lain-lain. Kelompok jenis jatah makan Batara Kala terakhir ini disebabkan kelalaian orang yang bersangkutan. Agar terhindar dari incaran Batara Kala, kelompok orang lalai tersebut cukup berhati-hati agar kejadian itu tidak terulang lagi. Jadi mereka tidak perlu “diruwat”, seperti kelompok pertama.


Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Read full post »

AJI SAKA

0 comments

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.

Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.
Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

Sumber :
http://cicykasih.wordpress.com/2008/07/17/aji-saka/
Read full post »
 

Copyright © Indonesia Folk Tales Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger