Thursday, December 1, 2011

Sesentola dan Burung Garuda

0 comments
Sesentola adalah seorang lelaki muda yang mempunyai nafsu makan yang sangat besar. Oleh karena orangtuanya tidak mampu lagi menghidupinya, Sesentola pun pergi dari kampungnya. Namun, negeri yang ditujunya ternyata sedang tertimpa musibah. Penduduk negeri itu hanya tinggal satu orang, yang lainnya telah mati akibat diserang oleh garuda raksasa. Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Sesentola dan Burung Garuda berikut ini!

Dahulu, di daerah Sulawesi Tengah, hiduplah sepasang suami istri. Sudah puluhan tahun mereka menikah namun belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berputus asa. Setiap malam mereka berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai anak, walau bagaimana pun keadaannya. Hingga pada suatu ketika, sang istri pun hamil.

“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengabulkan doa kami. Jika anak itu telah lahir, hamba berjanji akan merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang,” ucap sang suami.

Beberapa bulan kemudian, sang istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sesentola. Sejak dilahirkan, terlihat ada tanda-tanda keajaiban pada diri anak itu. Ia amat kuat minum susu. Terkadang, ia menangis karena merasa kurang kenyang. Sang ibu pun mulai kebingungan melihat keadaan anaknya.

“Pak, anak kita masih lapar padahal air susuku sudah habis. Apa yang harus kita lakukan?” tanya sang istri bingung.

“Sebaiknya kita beri tambahan makanan saja,” ujar suaminya.

“Tapi bukankah bisa membahayakan pencernaannya jika anak kita yang masih bayi ini diberi makanan orang dewasa?” tanya sang istri.

“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Jika tidak diberi makanan tambahan, ia pasti akan menangis terus,” ujar sang suami.

Suami-istri itu pun memutuskan untuk memberi nasi bubur kepada anak mereka. Rupanya, sepiring nasi bubur tidak cukup mengenyangkan Sesentola. Sekali makan, Sesentola yang masih bayi itu bisa menghabiskan 2-3 piring nasi. Demikian seterusnya, semakin hari ia semakin kuat makan. Namun, di balik itu, Sesentola memiliki kekuatan luar biasa yang tidak diketahui oleh orangtuanya.

Beberapa tahun kemudian, Sesentola tumbuh menjadi remaja. Kebiasaan makan banyak pun semakin meningkat. Sekali makan ia bisa menghabiskan satu bakul nasi. Hal itulah yang membuat sang bapak mulai kesal karena merasa sudah tidak mampu lagi memberi makan anaknya.

“Bu, aku sudah tidak kuat lagi dengan keadaan ini. Anak kita semakin banyak makannya. Lama-lama kita sendiri bisa mati kelaparan,” keluh sang suami.

Sampai suatu ketika, sang ayah benar-benar sudah kuat lagi menghadapi keadaan tersebut. Ia pun berniat untuk melenyapkan nyawa anak kandungnya sendiri. Sang istri pun tidak dapat berbuat apa-apa dengan keputusan suaminya.

Suatu hari, sang ayah mengajak Sesentola untuk menjala ikan di sungai yang banyak buayanya. Sesentola pun menuruti ajakan ayahnya. Setiba di sungai, sang bapak segera melemparkan jalannya ke tengah sungai. Setelah itu, ia memerintahkan Sesentola untuk mengambil jala tersebut.

“Sesentola, cepat ambil jala itu! Pasti sudah banyak ikan yang tertangkap di dalamnya!” perintah sang bapak.

“Baik, Pak,” jawab Sesentola.

Begitu Sesentola menyelam ke dasar sungai untuk mengangkat jala itu, sang bapak cepat-cepat meninggalkannya. Ia mengira anaknya itu pasti sudah mati dimakan buaya. Sesampai di rumah, ia pun menceritakan hal itu kepada istrinya.

“Bu, Sesentola pasti sudah mati dimakan buaya. Kita tidak akan kelaparan lagi,” kata sang suami.

Baru saja sang suami berkata demikian, tiba-tiba terdengar teriakan dari depan rumah.

“Bapak, aku pulang! Lihatlah yang aku bawa ini!”

Pasangan suami-istri itu tersentak kaget.

“Pak, bukankah itu suara anak kita, Sesentalo?” tanya sang istri.

Dengan perasaan cemas, sang suami segera keluar. Betapa terkejutnya karena ia mendapati Sesentola sedang memanggul seekor buaya besar.

“Lihat, Pak! Aku berhasil menangkap seekor buaya besar,” kata Sesentola.

Sang bapak pun terdiam, tidak percaya dengan apa yang saksikannya. Untung ia cepat tersadar sehingga niat jahatnya tidak diketahui oleh Sesentola. Karena rencananya gagal, ia segera mencari cara lain untuk melenyapkan nyawa anaknya. Ia teringat pada pohon beringin besar di tepi sungai. Maka, pada keesokan harinya ia pun mengajak Sesentola untuk pergi menebang pohon beringin itu.

“Sesentola, ayo bantu Bapak menebang pohon beringin yang ada di tepi sungai itu,” ajak sang bapak.

“Baik, Pak,” jawab Sesentola.

Bapak dan anak itu pun berangkat ke tepi sungai. Sang bapak sengaja mengarahkan rebahnya pohon itu ke tempat Sesentola berdiri. Begitu pohon beringin itu roboh, tak ayal tubuh Sesentola pun tertimpa pohon.

“Aduuhhh…!” jerit Sesentola.

Setelah itu, Sesentola tidak lagi bersuara. Sang bapak pun mengira anaknya telah mati. Maka, cepat-cepatlah ia kembali ke rumahnya dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara Sesentola.

“Bapak, aku pulang!” teriak Sesentola di depan rumah.

Alangkah terkejutnya sang bapak saat melihat anaknya sedang memikul pohon beringin yang ditebangnya tadi. Ia semakin tidak percaya melihat kekuatan anaknya itu. Sang istri langsung meneteskan air mata. Ia merasa kasihan melihat nasib anak semata wayangnya itu atas perlakuan sang suami terhadapnya.

Sementara itu, Sesentola yang telah menyadari niat jahat sang bapak mulai kesal. Meski demikian, ia tidak ingin melawan bapaknya. Ia merasa bahwa lebih baik pergi daripada terus membebani kedua orangtuanya.

“Jika Bapak dan Ibu sudah tidak mampu lagi menghidupiku, lebih baik aku pergi saja. Aku akan mencari penghidupan sendiri,” kata Sesentola.

“Baiklah, Anakku. Bawalah benda pusaka ini,” ujar sang ibu seraya menyerahkan panah bermata tiga dan cincin pusaka.

“Ingatlah, saat kamu hendak menggunakan panah ini harus disertai menyebut bagian tubuh musuh yang hendak kamu bidik. Jika kamu menyebut mata, anak panah itu akan mengenai mata musuhmu. Kalau engkau sakit, rendamlah cincin ini ke dalam air. Kemudian teteskanlah air itu di bagian tubuhmu yang sakit, niscaya kamu akan sembuh,” jelas ibu Sesentola.

“Terima kasih, Bu. Jagalah diri kalian baik-baik,” kata Sesentola.

Usai berpamitan kepada ibu dan bapaknya, Sesentola pun pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia berjalan tanpa tentu arah hingga akhirnya sampai di sebuah ibukota kerajaan. Namun anehnya, kota itu seperti tidak berpenghuni.

“Hai, kenapa kota ini sepi sekali? Pergi ke mana penduduknya?” gumam Sesentola dengan heran.

Setelah Sesentola mengelilingi kota itu, tampaklah sebuah rumah megah. Ia berpikir bahwa rumah itu pastilah istana raja. Dengan langkah perlahan-lahan, Sesentola memasuki istana itu. Namun, tak seorang pun yang terlihat. Hanya ada sebuah gendang rasasa di dalamnya. Karena penasaran, Sesentola pun berniat memukul gendang itu. Begitu ia hendak memukulnya, tiba-tiba ada suara wanita yang menegurnya.

“Hai, jangan kamu pukul gendang ini! Aku ada di dalamnya,” seru suara itu, “Ayo cepat sembunyi!”

Sesentola pun menuruti seruan itu. Begitu masuk ke dalam gendang itu, ia mendapati seorang gadis cantik.

“Hai, siapa kamu dan kenapa bersembunyi di sini?” tanya Sesentola heran.

“Sssstt…! Jangan keras-keras, nanti garuda itu datang menyerang lagi,” ujar perempuan itu.

“Garuda apa maksudmu?” tanya Sesentola bertanya dengan pelan.

“Namaku Lemontonda. Tinggal akulah satu-satunya yang masih hidup di negeri ini. Penduduk lainnya telah mati diserang burung garuda yang sangat ganas,” ungkap Lemontonda.

Mendengar cerita itu, Sesentola pun berniat untuk membinasakan garuda itu.

“Jangan takut, Lemontonda! Aku akan memberi pelajaran garuda itu,” ujar Sesentola.

“Jangan! Garuda itu sangat sakti. Lagipula ia tidak sendiri, dan masih ada Raja Garuda bernama Vandebulava yang lebih sakti,” kata Lemontonda.

“Tenang saja. Aku akan menghadapi mereka dengan senjata pusakaku ini,” kata Sesentola sambil menunjukkan senjatanya.

Beberapa saat kemudian, seekor garuda datang dan terbang berkeliling di atas istana. Garuda itu mengetahui keberadaan Sesentola dan gadis itu. Dengan gagah berani, Sesentola segera keluar lalu membidik mata garuda itu dengan panahnya. Begitu terlepas dari busurnya, anak panah itu melesat dengan cepat dan tepat mengenai mata garuda itu hingga tembus. Garuda itu pun jatuh dan tewas seketika.

Mengetahui kabar tersebut, Raja Garuda menjadi murka. Ia segera memerintahkan seekor garuda bernama Vandease untuk menangkap Sesentola.

“Tangkap dan bawa anak muda itu ke mari! Jika tidak mau, habisi saja dia!” seru Raja Garuda.

“Baik, Tuan!” jawab Vandease.

Vandease pun menemukan Sesentola dan memintanya untuk menyerahkan diri, namun pemuda sakti itu tidak mau. Sesentola kemudian menarik busurnya lalu membidik kening garuda itu. Anak panah pun melesat dan tepat mengenai kening garuda itu hingga tewas seketika. Melihat hal itu, Lemontonda berpesan kepada Sesentola.

“Berhati-hatilah, Sesentola! Raja Garuda itu sebentar lagi datang. Ia sangat sakti,” ujar Lemontonda.

“Baiklah, tolong siapkan segelas air untuk merendam cincin ini!” pinta Sesentola seraya menyerahkan cincinnya kepada Lemontonda, “Jika aku pingsan, tolong teteskan air ini ke mataku.”

Tak berapa lama kemudian, Vandebulava pun datang. Sesentola segera membidik leher garuda itu. Anak panahnya kemudian melesat menembus leher Raja Garuda. Karena kesaktiannya, sebelum jatuh, Raja Garuda sempat menyambar Sesentola hingga pingsan.

Melihat Sesentola pingsan, Lemontonda segera meneteskan air rendaman cincin pusaka ke mata pemuda itu. Beberapa saat kemudian, Sesentola pun siuman. Dengan tewasnya Raja Garuda, negeri itu kembali aman. Sesentola pun mengajak Lemontonda untuk menikah. Gadis itu bersedia tapi dengan satu syarat.

“Aku bersedia menikah asalkan kamu mampu menghidupkan kembali orangtuaku dan seluruh rakyat negeri ini,” pinta Lemotonda.

Sesentola pun menyanggupi syarat itu. Konon, dengan kesaktiannya, Sesentola berhasil menghidupkan kembali seluruh penduduk negeri itu. Ia pun menikah dengan Lemontonda dan diangkat menjadi raja di negeri itu. Selanjutnya, Sesentola memboyong orangtuanya ke istana. Mereka pun hidup berbahagia.

Sumber :
http://reginatheyser.blogspot.com/2011/10/cerita-rakyat-sulteng-sesentola-dan.html
Read full post »

Monday, December 22, 2008

Legenda Batu Bagga

0 comments
Tolitoli adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Di kabupaten yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas ini terdapat sebuah batu yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Konon, batu tersebut merupakan jelmaan sebuah perahu bagga (perahu layar), sehingga disebut batu bagga. Peristiwa apakah yang telah menyebabkan perahu bagga itu menjelma menjadi batu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Bagga berikut ini.

* * *

Konon, di sebuah kampung di daerah pesisir Sulawesi Tengah, Indonesia, hiduplah seorang duda bernama Intobu. Ia tinggal di sebuah gubuk bersama seorang putranya yang bernama Impalak. Mereka hidup sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka pergi ke laut untuk mencari ikan.

Pada suatu malam, ketika Intobu bersama anaknya hendak mencari ikan di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang dan hujan deras. Meskipun demikian, dua orang bapak dan anak itu tetap memutuskan untuk melaut. Dalam perjalanan menuju ke laut, Intobu menasehati Impalak.

‘Anakku! Ayah berharap jangan sampai cuaca buruk seperti ini membuatmu patah semangat untuk pergi melaut, karena hanya pekerjaan inilah yang menjadi tumpuan hidup kita.”

“Iya, Ayah! Saya mengerti,” jawab Impalak sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Sesampai di pantai, mereka segera menaiki sampan yang ditambatkan di tepi pantai. Dengan sekuat tenaga mereka mendayung sampan menyusuri pantai. Mereka tidak berani sampai ke tengah laut, karena cuaca sangat buruk. Mereka hanya memancing ikan di sekitar pantai. Tidak terasa, malam semakin larut. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke gubuk.

Setiba di gubuk, beberapa ekor ikan hasil tangkapannya digoreng untuk lauk dan selebihnya mereka jual pada keesokan harinya. Ikan-ikan tersebut mereka jajakan dari rumah ke rumah sampai habis terjual. Setelah semuanya laku terjual, uang hasil penjualan itu mereka belanjakan untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Begitulah pekerjaan mereka setiap hari yang sudah bertahun-tahun jalani.

Rupanya pekerjaan itu membuat Impalak menjadi jenuh. Ia ingin pergi merantau ke negeri lain untuk merubah nasib. Sejak itu, ia selalu murung dan merenung. Ia tidak berani menyampaikan keinginan itu kepada ayahnya. Selain itu, ia juga belum tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Meskipun tekadnya ingin pergi merantau begitu kuat, ia tetap berusaha memendamnya dalam hati.

Pada suatu hari, ayahnya sedang sibuk memperbaiki tali kailnya yang putus. Sementara, Impalak yang duduk di sampingnya hanya duduk termenung.

“Hei, Impalak! Kenapa wajahmu murung seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” tanya Intobu kepada anaknya.

“Tidak apa-apa, Ayah!” jawab Impalak dengan nada lemah.

“Bicaralah, Nak! Tidak usah kamu pendam dalam hati!” desak ayahnya.

Oleh karena terus didesak, akhirnya Impalak berterus terang kepada ayahnya.

“Maafkan saya, Ayah! Sebenarnya saya sudah jenuh menjadi nelayan. Walaupun setiap hari kita ke laut, tapi hasil yang kita peroleh hanya cukup untuk dimakan,” keluh Impalak kepada ayahnya.

“Jika Ayah mengizinkan, Impalak ingin pergi merantau ke negeri lain untuk mengubah nasib kita,” sambung Impalak.

Intobu terkejut mendengar permintaan anak semata wayangnya itu.

“Bagaimana dengan nasib Ayahmu ini, Nak? Umur Ayah sudah semakin tua. Jika kamu pergi, tidak ada lagi yang membantu Ayah untuk mendayung sampan,” kata Intobu mengiba kepada anaknya.

“Saya mengerti, Ayah! Tapi, saya sekarang sudah dewasa. Sudah saatnya saya membahagiakan Ayah. Jika Ayah pergi melaut, sebaiknya tidak perlu pergi jauh-jauh. Biarlah saya yang bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita dan demi masa depan saya,” jelas Impalak meyakinkan ayahnya.

Mendengar penjelasan anaknya itu, Intobu terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan anaknya itu memang benar. Jika hanya menjadi nelayan, kehidupan anaknya di masa depan tidak akan makmur.

“Baiklah, Nak! Meskipun dengan berat hati, Ayah mengizinkanmu pergi merantau. Tetapi, kamu jangan lupakan Ayah dan cepatlah kembali! Ayah khawatir tidak akan bertemu kamu lagi, apalagi umur Ayah sudah semakin tua,” kata Intobu dengan perasaan cemas.

“Baik, Ayah! Saya akan selalu mengingat pesan Ayah,” jawab Impalak dengan perasaan gembira.

Setelah mendapat izin dari ayahnya, Impalak segera ke pelabuhan untuk melihat apakah ada perahu bagga yang sedang berlabuh. Sesampai di pelabuhan, tampaklah sebuah perahu bagga sedang menurunkan muatan. Perahu itulah yang rencananya akan ditumpangi Impalak pergi merantau. Ia pun segera menemui pemilik perahu bagga itu.

“Permisi, Tuan! Bolehkah saya ikut berlayar bersama Tuan?” tanya Impalak tanpa rasa segan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan kenapa hendak ikut berlayar bersamaku?” tanya pemilik perahu.

“Saya Impalak, Tuan! Saya ingin pergi merantau untuk mengubah nasib keluarga saya,” jawab Impalak.

“Memang apa pekerjaannya orang tuamu?” tanya pemilik perahu.

“Ayah saya seorang nelayan biasa, sedangkan ibu saya sudah meninggal saat saya masih kecil. Setiap hari saya membantu ayah memancing ikan di laut. Akan tetapi, hasilnya hanya cukup untuk di makan sehari-hari. Makanya saya ingin pergi merantau untuk mencari nafkah yang lebih baik,” jelas Impalak.

Mendengar penjelasan itu, pemilik perahu itu pun tersentuh hatinya ingin menolong Impalak dan bersedia membawanya ikut berlayar.

“Kamu memang anak yang berbakti, Impalak! Besok pagi kita akan berlayar bersama. Tapi, apakah kamu sudah meminta izin kepada ayahmu?” tanya pemilik perahu.

“Saya sudah mendapat izin dari ayah saya, Tuan!” jawab Impalak.

“Baiklah, kalau begitu! Saya tunggu kamu besok pagi,” kata pemilik perahu itu.

“Terima kasih, Tuan!” ucap Impalak seraya berpamitan pulang.

Sesampai di gubuk, Impalak segera menyampaikan berita gembira itu kepada Ayahnya.

“Ayah, saya sudah menghadap kepada pemilik perahu bagga. Dia bersedia mengajak saya berlayar bersamanya,” lapor Impalak kepada ayahnya dengan perasaan gembira.

“Ya, syukurlah kalau begitu, Nak! Nanti malam siapkanlah segala keperluan yang akan kamu bawa!” seru ayahnya sambil tersenyum pilu.

Keesokan paginya, Impalak sudah siap untuk berangkat. Ia diantar oleh ayahnya ke pelabuhan. Sesampai di pelabuhan, perahu bagga yang akan ditumpangi tidak lama lagi akan berangkat. Tampak si pemilik perahu berdiri di atas anjungan berteriak memanggil Impalak.

“Impalak...! Ayo cepat...! Perahunya sebentar lagi berangkat...”

“Baik, Tuan!” jawab Impalak seraya berpamitan kepada ayahnya.

“Ayah! Saya harus berangkat sekarang, jaga diri Ayah baik-baik!”

“Iya, Nak! Jangan lupakan Ayah, Nak!”

“Baik, Ayah! Saya akan selalu ingat pesan Ayah,” kata Impalak sambil mencium tangan ayahnya.

Suasana haru pun menyelimuti hati ayah dan anak itu. Tidak terasa, Impalak meneteskan air mata. Demikian pula sang Ayah, air matanya berlinang tidak kuat menahan rasa haru.

“Impalak...! Ayo kita berangkat!” terdengar lagi teriakan pemilik perahu memanggil Impalak.

“Ayah, saya berangkat dulu,” jawab Impalak kemudian bergegas menuju ke perahu bagga.

“Kalau sudah berhasil cepat pulang ya, Nak!” teriak sang Ayah sambil melayangkan pandangannya ke arah Impalak yang sedang berlari menuju ke perahu bagga.

Tidak berapa lama, Impalak sudah tampak berdiri di anjungan bersama pemilik perahu sambil melambaikan tangan. Sang Ayah pun membalas lambaian tangan anaknya sambil meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian, berangkatlah perahu bagga itu. Setelah perahu bagga menghilang dari pandangannya, Intobu pun bergegas pulang ke gubuknya. Sejak kepergian anaknya, Intobu menjalani hari-harinya seorang diri sebagai nelayan.

Tidak terasa, sudah beberapa tahun Impalak merantau di negeri orang. Namun, ia tidak pernah memberi kabar kepada ayahnya. Hal itulah yang membuat ayahnya selalu gelisah menanti kedatangannya. Setiap ada perahu bagga yang berlabuh di pelabuhan, sang Ayah selalu berharap anak kesayangannya datang membawa rezeki, namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Pada suatu hari, ayah Impalak mencari ikan di sekitar pelabuhan dengan menggunakan sampan. Tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat sebuah perahu bagga hendak berlabuh di pelabuhan.

“Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Jangan-jangan anakku ada di perahu bagga itu? Ah, tidak mungkin. Impalak benar-benar sudah melupakan aku,” ucap ayah Impalak berusaha menepis pikiran-pikiran itu.

Semakin lama perahu bagga itu semakin dekat dan semakin tampak jelas. Jantung ayah Impalak pun berdetak semakin kencang. Ketika perahu bagga itu melintas tidak jauh dari tempatnya memancing ikan, tiba-tiba ia melihat soeorang pemuda gagah bersama seorang wanita cantik berdiri di haluan perahu bagga. Keduanya adalah Impalak dan istrinya. Ternyata, selama berada di rantauan Impalak berhasil menjadi orang kaya dan beristri wanita cantik.

Oleh karena yakin bahwa pemuda itu adalah anaknya, tiba-tiba sang Ayah berteriak.

“Impalaaak....Anakku! Ini aku ayahmu!”

Impalak tahu bahwa lelaki tua yang memanggilnya itu adalah ayahnya. Namun karena malu kepada istrinya, ia berpura-pura tidak mendengar teriakan itu.

“Bang! Sepertinya orang itu memanggil nama Abang. Apakah dia itu ayah Abang?” tanya istrinya setelah mendengar teriakan lelaki tua itu.

“Bukan! Abang tidak mempunyai ayah sejelek lelaki tua itu,” jawab Impalak dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.

“Tapi, bukankah orang tua itu mengaku kalau Abang adalah anaknya?” tanya istri Impalak.

“Dia itu hanya mengada-ada,” jawab Impalak dengan ketus.

“Sudahlah, Dik! Tidak usah hiraukan orang gila itu!” tambah Impalak.

Mendengar ucapan itu, istri Impalak pun langsung diam. Ia tidak ingin bertanya lagi tentang lelaki tua itu. Ia berpikir, barangkali suaminya benar bahwa lelaki tua itu adalah orang gila yang mengaku sebagai ayah dari suaminya.

Sementara ayah Impalak dengan sekuat tenaga terus mendayung sampannya mengejar perahu bagga yang ditumpangi Impalak. Ketika akan sampai di pelabuhan, tiba-tiba angin bertiup kencang. Sampan yang ditumpangi ayah Impalak terombang-ambing oleh gelombang besar. Ayah Impalak tidak sanggup lagi mengendalikan sampannya.

“Toloonng... ! Tolooong... aku Impalak!” teriak ayah Impalak meminta tolong.

Namun, malang nasibnya bagi lelaki tua itu. Impalak yang berada di atas perahu bagga itu justru tertawa terbahak-bahak melihatnya diombang-ambing gelombang laut.

“Ha..ha..ha...!!! Rasakanlah itu orang gila!”

Walaupun ayah Impalak berkali-kali berteriak meminta tolong, Impalak tetap tidak memperdulikannya. Perahu yang ditumpangi Impalak justru semakin menjauhinya. Hati lelaki tua itu hancur karena diabaikan oleh anak kandungnya sendiri. Ia sudah tidak tahan lagi melihat perilaku anaknya yang sudah tidak menaruh belas kasihan lagi kepadanya. Dengan mengangkat kedua tangannya, lelaki tua itu berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan! Hukumlah anak Hamba yang durhaka itu! Kutuklah perahu bagga yang ditumpanginya itu menjadi batu!”

Beberapa saat kemudian, angin bertiup dengan kencang, ombak laut bergulung-gulung menghantam perahu Impalak sehingga terdampar di pantai. Seketika itu pula, perahu bagga dan Impalak menjelma menjadi batu. Oleh masyarakat setempat batu itu kemudian diberi nama Batu Bagga.

* * *

Demikianlah cerita Legenda Batu Bagga dari Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita legenda di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat durhaka terhadap kedua orang tua. Sifat ini tercermin pada perilaku Impalak yang tidak mau mengakui ayah kandungnya yang miskin itu. Akibatnya, ia pun dikutuk oleh Tuhan menjadi batu. Dari sini dapat kita pahami bahwa harta benda dapat membutakan hati seseorang, sehingga orang tua sendiri pun dapat diabaikan. Pelajaran lain yang dapat diambil dari cerita di atas adalah bahwa doa orang tua yang disia-siakan akan dikabulkan oleh Tuhan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau ibu bapak engkau abaikan,
disitulah tempat murka Tuhan
siapa durhaka ke ibu bapak,
celaka menimpa tertimpa balak

(SM/sas/74/05-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Jaruki Atisah, Muhammad. 2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kabupaten Toli-Toli”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Toli-Toli, diakses tanggal 15 Mei 2008.
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Http://melayuonline.com

Read full post »

Asal Usul Pohon Sagu dan Palem

0 comments
Pohon sagu dan palem merupakan jenis tanaman dataran rendah tropik yang banyak ditemukan tumbuh liar di kawasan hutan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal usul kedua jenis pohon ini berasal dari tubuh manusia atau penjelmaan manusia. Hal ini dikisahkan dalam sebuah legenda yang hingga kini masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat setempat. Bagaimana manusia dapat menjelma menjadi pohon sagu dan palem? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem berikut ini!

* * *

Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelakinya. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir hutan Dolo. Hidup mereka sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan dan hasil hutan lainnya yang tersedia di sekitar mereka. 

Semakin lama sang Suami pun merasa bosan hidup dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, timbullah niatnya ingin membuka lahan perkebunan yang akan ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija dan sayur-sayuran. Suatu hari, ia pun menyampaikan niat baiknya tersebut kepada istrinya.

“Dik! Bagaimana kalau kita berkebun saja? Aku sudah bosan hidup seperti ini terus,” ungkap sang Suami.

Alangkah senang hati sang Istri mendengar rencana suaminya. Ia merasa bahwa suaminya akan berubah untuk tidak bermalas-malasan bekerja. 

“Bang, kita mau berkebun di mana? Bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk berkebun?” tanya sang Istri.

“Tenang, Dik! Besok Abang akan membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan,” jawab sang Suami.

“Baiklah kalau begitu, aku setuju,” kata sang Istri.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan Dolo. Setelah beberapa lama menyusuri hutan, ia pun menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Sementara itu, sang Istri bersama anaknya menunggu di rumah sambil menyiangi rerumputan yang tumbuh di pekarangan rumah agar ular tidak mengganggu mereka.

Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk persiapan makan malam mereka. Istrinya pun menyambutnya dengan penuh harapan. Usai menyuguhkan minuman, sang Istri bertanya kepada suaminya.

“Bang, bagaimana hasilnya? Apakah Abang sudah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan?” 

“Iya, Dik! Abang sudah menemukan sebidang tanah yang subur,” jawab sang Suami.

Mendengar jawaban suaminya, sang Istri merasa gembira. Ia berharap dengan adanya pekerjaan baru tersebut kehidupan keluarga mereka akan menjadi lebih baik suatu hari kelak. 

“O iya, Bang! Kalau Adik boleh tahu, di mana letak lahan itu?” sang Istri kembali bertanya.

“Letaknya tidak jauh dari rumah kita,” jawab sang Suami.

“Syukurlah kalau begitu, Bang! Kita tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya. Lalu, kapan Abang akan memulai membuka lahan?” tanya sang Istri.

“Kalau tidak ada aral melintang, besok Abang akan memulainya,” jawab sang Suami dengan penuh keyakinan.

Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap. Sang Istri pun menyiapkan makan malam seadanya. Usai makan malam, keluarga miskin tersebut beristirahat setelah hampir seharian bekerja. 

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan sambil membawa parang dan cangkul. Sesampainya di tempat yang akan dijadikan lahan perkebunan, tiba-tiba muncul sifat malasnya. Ia bukannya membabat hutan, melainkan duduk termenung sambil memerhatikan pepohanan yang tumbuh besar dan hijau di hadapannya. Sementara itu, istri dan anaknya sedang menunggu di rumah dengan penuh harapan. Sang Istri mengharapkan agar suaminya segera membuka lahan perkebunan.

“Anakku! Jika Ayahmu telah selesai membuka lahan perkebunan, kita bisa membantunya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di kebun,” ujar sang Ibu kepada anaknya.

“Bolehkah aku ikut membantu, Ibu?” tanya anaknya.

“Tentu, Anakku! Ayahmu pasti sangat senang jika kamu juga ikut membantunya,” jawab sang Ibu sambil tersenyum.

Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan. Ia pun disambut oleh istrinya dengan suguhan air minum. Setelah suaminya selesai minum dan rasa capeknya hilang, sang Istri pun kembali menanyakan tentang hasil pekerjaannya hari itu.

“Bagaimana hasilnya hari ini, Bang?” 

“Belum selesai, Dik!” jawab sang Suami. 

Keesokan harinya, sang Suami kembali ke hutan. Setiba di sana, ia pun kembali hanya duduk termenung. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Begitupula jika ditanyai oleh istrinya tentang hasil pekerjaannya, ia selalu menjawab “belum selesai”. 

Oleh karena penasaran ingin melihat hasil pekerjaan suaminya, suatu siang sang Istri menyusulnya ke hutan tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati suaminya duduk termenung sambil bersandar di bawah sebuah pohon. Alangkah kecewanya sang Istri, karena lahan perkebunan yang diharapkannya tidak terwujud. 

“Bang! Mana lahan perkebunan itu?” tanya sang Istri.

Mendengar pertanyaan istrinya itu, sang Suami bukannya menjawabnya. Akan tetapi, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian langsung pulang dengan perasaan marah. Rupanya, ia merasa tersinggung karena istrinya menyusul ke hutan. Mengetahui suaminya marah, sang Istri pun mengikutinya dari belakang. 

Sesampai di rumah, kemarahan sang Suami semakin memuncak. Ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Sang Istri yang tidak menerima kelakuan suaminya itu langsung berlari menuju ke hutan sambil menangis. Sesampainya di tengah hutan, ia langsung menceburkan diri ke dalam sebuah telaga. 

Sementara itu, sang Suami yang baru menyadari akibat dari kelakuannya segera mengajak anaknya untuk menyusul istrinya ke tengah hutan. 

“Ayo Anakku, kita susul Ibumu ke hutan!” ajak sang Ayah sambil menarik tangan anaknya.

“Baik, Ayah!” jawab anaknya.

Sesampainya di tengah hutan, tidak jauh dari hadapan mereka terlihatlah sang Istri berada di tengah telaga. Tubuhnya sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu. Melihat peristiwa itu, ayah dan anak itu pun segera berlari mendekati telaga. 

“Maafkan aku, Dik! Kembalilah!” teriak sang Suami.

“Ibu..., Ibu.... Aku ikut!” teriak anaknya sambil menangis.

“Kamu di sini saja, Anakku! Tidak usah ikut ibumu, sebentar lagi dia kembali,” bujuk sang Ayah.

“Tidak Ayah! Aku mau ikut Ibu,” kata anaknya meronta-ronta.

Sang Ayah terus berusaha membujuk anaknya agar berhenti menangis. Namun, sang Anak tetap menangis dan bersikeras ingin ikut ibunya. Saat sang Ayah lengah, si anak pun berlari dan terjun masuk ke dalam telaga. Maka seketika itu pula, ia menjelma menjadi sebatang pohon sagu seperti ibunya. 

Setelah melihat peristiwa itu, barulah sang Suami sadar dan menyesali semua perbuatannya. 

“Maafkan aku, Istriku! Maafkan aku, Anakku! Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada kalian,” ucapnya sambil menangis berderai air mata.

Berulang kali sang Suami meminta maaf kepada istri maupun kepada anaknya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal kemudian tiadalah guna. Istri dan anaknya telah menjelma menjadi pohon sagu. Ia pun tidak ingin hidup sendirian tanpa istri dan anaknya. Akhirnya, ia pun ikut terjun ke dalam telaga itu. Ketika itu pula ia pun menjelma menjadi sebatang pohon palem. 

* * *

Demikian cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem dari daerah Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk sifat malas bekerja dan sifat kasar langgar.

Pertama, akibat buruk dari sifat malas bekerja. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku sang Suami yang suka menunda-nunda melakukan pekerjaannya. Akibatnya, dia dan keluarganya senantiasa hidup miskin. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu: 

berkayuh berat pengayuh,

berladang berat parang

 

bekerja mengeluh,

makan berpeluh

Kedua, akibat buruk sifat kasar langgar. Sifat ini tercermin pula pada sikap dan perilaku sang Suami yang berlaku kasar terhadap istrinya. Akibat perbuatannya tersebut, istri dan anaknya bahkan dirinya sendiri menjelma menjadi pohon sagu dan palem. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

apa tanda kasar langgar,

lidah tajam mulut pun kasar

 

binasa diri kasar langgar,

binasa badan kurang ajar

(Samsuni/sas/104/12-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Muhammad Jaruki, Atisah.2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Sulawesi Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah, dikases tanggal 04 Desember 2008).
Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bapedda Tingkat I Riau.
--------. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
http://melayuonline.com/literature/?a=VFBYIC9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=

Read full post »

Sunday, December 21, 2008

Putri Tadampalik

0 comments
Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita. 

Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia. 

Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan. 

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya. 

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu. 

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo. 

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya. 

Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mongering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule. Suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut. 

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik. 

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Keinginan pangeran Bone itu tidak main-main. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima. 

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone. Maka Datu Luwu menerima pinangan pangeran Bone. 

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/putri_tadampalik.html
Read full post »

Saturday, December 20, 2008

Putri Tandampalik

0 comments

Dahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama negeri Luwu, yang terletak di pulau Sulawesi. Negeri Luwu dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Busatana Datu Maongge, sering dipanggil Raja atau Datu Luwu. Karena sikapnya yang adil, arif dan bijaksana, maka rakyatnya hidup makmur. Sebagian besar pekerjaan rakyat Luwu adalah petani dan nelayan. Datu Luwu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik, namanya Putri Tandampalik. Kecantikan dan perilakunya telah diketahui orang banyak. Termasuk di antaranya Raja Bone yang tinggalnya sangat jauh dari Luwu.

Raja Bone ingin menikahkan anaknya dengan Putri Tandampalik. Ia mengutus beberapa utusannya untuk menemui Datu Luwu untuk melamar Putri Tandampalik. Datu Luwu menjadi bimbang, karena dalam adatnya, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Tetapi, jika lamaran tersebut ditolak, ia khawatir akan terjadi perang dan akan membuat rakyat menderita. Meskipun berat akibat yang akan diterima, Datu Lawu memutuskan untuk menerima pinangan itu. "Biarlah aku dikutuk asal rakyatku tidak menderita," pikir Datu Luwu.

Beberapa hari kemudian utusan Raja Bone tiba ke negeri Luwu. Mereka sangat sopan dan ramah. Tidak ada iringan pasukan atau armada perang di pelabuhan, seperti yang diperkirakan oleh Datu Luwu. Datu Luwu menerima utusan itu dengan ramah. Saat mereka mengutarakan maksud kedatangannya, Datu Luwu belum bisa memberikan jawaban menerima atau menolak lamaran tersebut. Utusan Raja Bone memahami dan mengerti keputusan Datu Luwu. Mereka pun pulang kembali ke negerinya.

Keesokan harinya, terjadi kegaduhan di negeri Luwu. Putri Tandampalik jatuh sakit. Sekujur tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Para tabib istana mengatakan Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang berbahaya. Berita cepat tersebar. Rakyat negeri Luwu dirundung kesedihan. Datu Luwu yang mereka hormati dan Putri Tandampalik yang mereka cintai sedang mendapat musibah. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan anaknya. Karena banyak rakyat yang akan tertular jika Putri Tandampalik tidak diasingkan ke daerah lain. Keputusan itu dipilih Datu Luwu dengan berat hati. Putri Tandampalik tidak berkecil hati atau marah pada ayahandanya. Lalu ia pergi dengan perahu bersama beberapa pengawal setianya. Sebelum pergi, Datu Luwu memberikan sebuah keris pada Putri Tandampalik, sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan apalagi membuang anaknya.

Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan, akhirnya mereka menemukan sebuah pulau. Pulau itu berhawa sejuk dengan pepohonan yang tumbuh dengan subur. Seorang pengawal menemukan buah Wajao saat pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. "Pulau ini kuberi nama Pulau Wajo," kata Putri Tandampalik. Sejak saat itu, Putri Tandampalik dan pengikutnya memulai kehidupan baru. Mereka mulai dengan segala kesederhanaan. Mereka terus bekerja keras, penuh dengan semangat dan gembira.

Pada suatu hari Putri Tandampalik duduk di tepi danau. Tiba-tiba seekor kerbau putih menghampirinya. Kerbau bule itu menjilatinya dengan lembut. Semula, Putri Tandampalik hendak mengusirnya. Tapi, hewan itu tampak jinak dan terus menjilatinya. Akhirnya ia diamkan saja. Ajaib! Setelah berkali-kali dijilati, luka berair di tubuh Putri Tandampalik hilang tanpa bekas. Kulitnya kembali halus dan bersih seperti semula. Putri Tandampalik terharu dan bersyukur pada Tuhan, penyakitnya telah sembuh. "Sejak saat ini kuminta kalian jangan menyembelih atau memakan kerbau bule, karena hewan ini telah membuatku sembuh," kata Putri Tandampalik pada para pengawalnya. Permintaan Putri Tandampalik itu langsung dipenuhi oleh semua orang di Pulau Wajo hingga sekarang. Kerbau bule yang berada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak.

Di suatu malam, Putri Tandampalik bermimpi didatangi oleh seorang pemuda yang tampan. "Siapakah namamu dan mengapa putri secantik dirimu bisa berada di tempat seperti ini?" tanya pemuda itu dengan lembut. Lalu Putri Tandampalik menceritakan semuanya. "Wahai pemuda, siapa dirimu dan dari mana asalmu ?" tanya Putri Tandampalik. Pemuda itu tidak menjawab, tapi justru balik bertanya, "Putri Tandampalik maukah engkau menjadi istriku?" Sebelum Putri Tandampalik sempat menjawab, ia terbangun dari tidurnya. Putri Tandampalik merasa mimpinya merupakan tanda baik baginya.

Sementara, nun jauh di Bone, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu. Ia ditemani oleh Anre Pguru Pakanranyeng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya. Saking asyiknya berburu, Putra Mahkota tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongan dan tersesat di hutan. Malam semakin larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya. Suara-suara hewan malam membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di kejauhanm, ia melihat seberkas cahaya. Ia memberanikan diri untuk mencari dari mana asal cahaya itu. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah perkampungan yang letaknya sangat jauh. Sesampainya di sana, Putra Mahkota memasuki sebuah rumah yang nampak kosong. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air di dalam rumah itu. Gadis cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik.

"Mungkinkah ada bidadari di tempat asing begini ?" pikir putra Mahkota. Merasa ada yang mengawasi, Putri Tandampalik menoleh. Sang Putri tergagap," rasanya dialah pemuda yang ada dalam mimpiku," pikirnya. Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri Tandampalik merasa pemuda yang kini berada di hadapannya adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya. Meski ia seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis yang anggun tetapi tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsing menaruh hati.

Setelah beberapa hari tinggal di desa tersebut, Putra Mahkota kembali ke negerinya karena banyak kewajiban yang harus diselesaikan di Istana Bone. Sejak berpisah dengan Putri Tandampalik, ingatan sang Pangeran selalu tertuju pada wajah cantik itu. Ingin rasanya Putra Mahkota tinggal di Pulau Wajo. Anre Guru Pakanyareng, Panglima Perang Kerajaan Bone yang ikut serta menemani Putra Mahkota berburu, mengetahui apa yang dirasakan oleh anak rajanya itu. Anre Guru Pakanyareng sering melihat Putra Mahkota duduk berlama-lama di tepi telaga. Maka Anre Guru Pakanyareng segera menghadap Raja Bone dan menceritakan semua kejadian yang mereka alami di pulau Wajo. "Hamba mengusulkan Paduka segera melamar Putri Tandampalik," kata Anre Guru Pakanyareng. Raja Bone setuju dan segera mengirim utusan untuk meminang Putri Tandampalik.

Ketika utusan Raja Bone tiba di Pulau Wajo, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahandanya ketia ia di asingkan. Putri Tandampalik mengatakan bila keris itu diterima dengan baik oleh Datu Luwu berarti pinangan diterima. Putra Mahkota segera berangkat ke Kerajaan Luwu sendirian. Perjalanan berhari-hari dijalani oleh Putra Mahkota dengan penuh semangat. Setelah sampai di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu.

Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu Luwu merasa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat. Maka ia pun menerima keris pusaka itu dengan tulus. Tanpa menunggu lama, Datu Luwu dan permaisuri datang mengunjungi pulau Wajo untuk bertemu dengan anaknya. Pertemuan Datu Luwu dan anak tunggal kesayangannya sangat mengharukan. Datu Luwu merasa bersalah telah mengasingkan anaknya. Tetapi sebaliknya, Putri Tandampalik bersyukur karena rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang dideritanya. Akhirnya Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Bone dan dilangsungkan di Pulau Wajo. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Beliau menjadi raja yang arif dan bijaksana.



Sumber : http://www.e-smartschool.com

Read full post »

Tau Niulaya Nu Bau

0 comments
Pada zaman dahulu kala hidup seorang bangsawan yang kaya raya bersama isterinya di Desa Lolambi. Pasangan suami-isteri itu sudah lama kawin tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Siang-malam mereka berdoa pada sang Dewata agar mereka diberikan momongan. Setelah bertahun-tahun memohon, akhirnya Dewata mengabulkan permintaan mereka, dan si isteri pun mulai mengandung.

Setelah sembilan bulan mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan gagah. Putera itu diberi nama Kasainta. Namun, anak itu tidak lama merasakan kasih sayang ayahnya karena pada usia dua tahun, ayahnya telah meninggal dunia.

Sepeninggal ayahnya, ibu Kasainta selalu bersedih. Ibu itu merasa bahwa ia tidak akan mampu memelihara Kasainta dan sekaligus mengurus harta kekayaan suaminya seorang diri. Ia membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Oleh sebab itu, ia memanggil kakak laki-lakinya untuk tinggal di rumahnya. Waktu itu sang kakak telah mempunyai dua orang putera yang umurnya sedikit lebih tua dari umur Kasainta.

Sejak saat itu Kasainta dipelihara bersama-sama saudaranya. Dalam pergaulannya sehari-hari, Kasainta selalu sopan, penurut, rajin dan suka menolong orang lain. Sebaliknya, tabit kedua saudara sepupunya sangat bertentangan dengan tabit Kasainta. Mereka suka mengganggu orang lain. Di rumah mereka sering pula mengejek Kasainta sebagai seorang anak yang tak berayah.

Karena sudah tidak tahan lagi, Kasainta melaporkan pada ibunya tindakan saudara sepupunya itu. Ibunya menasehati agar hal itu dihadapi saja dengan penuh kesabaran. Mendengar nasihat ibunya, Kasainta hanya diam saja, dan sejak itu ia sering bermain bersama teman-temannya di luar rumah dan jarang bergaul atau bermain bersama kedua saudara sepupunya.

Dari pergaulan dengan teman-teman yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, Kasainta mengetahui bahwa paman dan kedua anaknya itu sebenarnya baru beberapa tahun tinggal di rumah Kasinta. Mereka memiliki rumah sendiri di desa lain. Setelah mendengar penjelasan itu, Kasainta pulang dan langsung bertanya pada ibunya, mengapa mereka ditemani oleh pamannya. Ibunya menjelaskan bahwa rumah yang mereka tinggali itu adalah rumah ayah Kasainta. Begitu pula harta yang diurus oleh pamannya. Kasainta masih terlalu muda untuk mengurus harta ayahnya. Rumah dan harta warisan itu nantinya akan diserahkan pada Kasianta setelah dewasa.

Percakapan tadi secara tidak sengaja terdengar pula oleh kedua saudara sepupu Kasainta. Mereka akhirnya tahu bahwa selama ini mereka tinggal di rumah Kasainta dan harta kekayaan yang diurus oleh ayah mereka sebenarnya adalah harta Kasainta. Singkat cerita, timbullah niat mereka untuk menguasai harta itu dengan cara menyingkirkan Kasainta. Apabila Kasainta telah tiada, tentu harta itu akan menjadi milik mereka berdua.

Kedua orang itu kemudian berunding mencari cara yang paling baik untuk menyingkirkan Kasainta. Dan, dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Kasainta harus disingkirkan sejauh mungkin agar tidak dapat kembali lagi ke rumahnya. Caranya adalah dengan membawanya ke hutan yang terdapat di sebuah tanjung yang jauh dari Desa Lolambi, dengan alasan untuk mencari rotan. Hutan tersebut tidak berpenghuni dan apabila Kasainta yang masih kecil ditinggalkan di sana, maka ia akan kelaparan dan mati di sana.

Pada hari yang telah ditentukan, Kasainta dibujuk oleh kedua saudara sepupunya itu untuk pergi mencari rotan di hutan. Tanpa merasa curiga sedikit pun, Kasainta menuruti kemauan kedua saudaranya itu meskipun pekerjaan ini dapat mengancam keselamatan jiwanya. Mereka bertiga kemudian berangkat menaiki perahu menuju tanjung untuk mecari rotan. Perjalanan dengan perahu itu ditempuh dalam waktu sehari semalam.

Setelah sampai di tanjung itu, hari telah menjelang malam, sehingga Kasainta dan kedua saudara sepupunya segera mendirikan sebuah gubug untuk berteduh dan beristirahat di tepi pantai.

Keesokan harinya barulah mereka pergi ke dalam hutan hendak mencari rotan. Jarak hutan itu kira-kira 3 km dari tempat mereka membuat gubug untuk beristrahat di pinggir pantai. Setelah menebang dan mengumpulkan rotan, sore harinya mereka pulang kembali ke gubug mereka di pantai.

Pada hari yang kedua, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke hutan untuk mencari rotan lagi. Dalam perjalanan menuju hutan itu, tanpa sepengetahuan Kasainta, kedua saudara sepupunya merundingkan bagaimana caranya menipu Kasainta agar tertinggal di hutan. Dalam perundingan itu mereka sepakat untuk membuat 4 ikat rotan, padahal mereka hanya bertiga. Rontan yang keempat nanti akan diambil dan dibawa sendiri oleh Kasainta.

Setelah sampai di hutan, mereka kemudian mengumpulkan rotan dan mengikatnya menjadi 4 ikatan. Saat rotan selesai diikat, maka setiap orang membawa seikat menuju pantai tempat mereka berdiam sementara. Sedangkan rotan yang masih tersisa mereka tinggalkan di hutan. Kasainta menduga bahwa rotan yang tersisa itu nanti akan diambil lagi dan dibawa bersama-sama dengan kedua saudara sepupunya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa rotan itu hanyalah siasat dari kedua saudaranya agar ia tertinggal di hutan dan tidak kembali lagi ke rumahnya.

Setelah tiba di pantai, Kasainta disuruh kakaknya untuk pergi sendiri mengambil rotan yang masih tertinggal di hutan. Tanpa membantah Kasainta segera pergi ke tempat di mana rotan itu disimpan. Dalam perjalanan mengambil ikatan rotan yang keempat itu, Kasainta masih tidak merasa bahwa ia akan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya.

Ketika Kasainta sudah masuk ke dalam hutan, kedua orang saudara sepupunya itu langsung mendorong perahu mereka ke laut dan segera berlayar meninggalkan tempat itu. Perahu yang mereka kayuh meluncur laksana awan ditiup angin menuju Lolambi. Mereka gembira sekali karena tipu muslihatnya dapat dilaksanakan dengan baik. Mereka mengira Kasainta pasti mati dalam hutan itu karena semua makanan dan parang telah mereka bawa. Tidak mungkin Kasainta dapat hidup di hutan yang mengerikan itu. Demikianlah pikir mereka dalam perahu di tengah laut itu.

Beberapa jam kemudian, Kasainta pun tiba di tepi pantai dengan membawa rotan yang keempat. Ia heran sekali melihat gubug telah kosong. Saudara-saudaranya tidak ada lagi dan perahu pun juga tidak ada. “Barangkali mereka sudah pergi,” pikir Kasainta. Ia berusaha mencari kedua saudaranya di sekitar tempat itu, namun tidak berhasil.

Kasainta akhirnya sadar bahwa tujuan kedua saudaranya mengajak ke hutan mencari rotan itu semata-mata hanya ingin membunuhnya secara halus. Kasainta menyesal mengapa ia mau diajak pergi ke tempat itu. Ia menangis di atas sebuah karang. Sambil menangis ia menyebut nama Tuhan, dan memohon agar dilindungi serta diselamatkan dari bahaya yang mungkin mengancam jiwanya.

Saat ia menangis itu, tiba-tiba di atas permukaan laut muncul dua ekor ikan besar mendekati Kasainta. Seekor di antaranya ialah ikan yu. Ikan itu kemudian berbicara pada Kasainta: “Hai, manusia, apakah yang engkau susahkan sehingga menangis dan meratap di tempat yang sunyi ini?”

Kasainta berhenti menangis, lalu menjawab: “Saya sedih karena di tinggalkan oleh saudara saya di sini.

“Tak usah sedih, nanti kami antar kau kembali ke desamu,” kata ikan yu.

“Bagaimana caranya kalian mengantar saya pulang?” tanya Kasainta.

“Naiklah di punggung saya,” kata ikan yu, “nanti teman saya yang akan menjaga engkau dari gangguan ikan lainnya.”

Kemudian Kasainta naik di atas punggung ikan yu itu. Pada saat itu juga ikan itu meluncur bagaikan sebuah kapal. Kebetulan pada waktu itu matahari sedang bersinar terik sehingga Kasainta merasa kepanasan. Ikan yu itu sadar akan hal ini sehingga Kasainta disuruh berpegang erat-erat. Kemudian ikan itu menyelam sedikit sehingga badan Kasainta agak sejuk terkena air laut. Dan, tanpa disadarinya, Kasainta telah melewati perahu kedua saudara sepupunya.

Ia tiba di pantai Lolambi kira-kira jam empat sore. Sebelum ia ke darat, Kasainta berkata pada kedua ekor ikan yang telah menolongnya: “Saya akan berpesan pada turunan saya untuk tidak memakan jenis ikan seperti kalian ini. Kalau ada di antara turunan saya yang memakannya, maka mereka akan terkena kutukan saya.”

Setelah mendarat, Kasainta langsung pulang ke rumahnya. Di sana ia melihat paman dan ibunya sedang duduk di serambi depan. Mereka bertanya: “Di mana saudaramu? Mengapa hanya kau sendiri yang kembali?”

Kasainta menjawab: “Kalau bukan karena kuasa Tuhan, saya tidak akan kembali lagi.”

Mendengar ucapan anaknya itu, ibu Kasainta menjadi heran dan mendesak pada anaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya Kasainta menceritakan pengalamannya sejak ia berangkat mencari rotan sampai ia dapat kembali ke Lolambi karena diselamatkan ikan. Ibunya menangis tanda bersyukur pada Tuhan, karena anaknya selamat tiba di rumah. Ia memeluk anaknya dengan suka cita.

“Rupanya saudaramu itu hendak membunuhmu, ya,” kata pamannya. “Saya tunggu mereka datang baru ditanyakan tentang kebenaran kata-katamu itu.”

Keesokan harinya saudara sepupu Kasainta baru tiba dengan selamat di pantai Lolambi. Ayah dan bibi mereka sudah menunggu sejak malam hari. Masyarakat Lolambi pun ikut pula menunggu kedatangan kedua anak itu untuk membuktikan kisah Kasainta yang telah tersiar di seluruh desa. Pada waktu kedua anak itu telah mendarat, Kasainta sengaja disembunyikan.

Ketika kakak beradik itu telah sampai di rumah, mereka langsung ditanya oleh ayahnya, mengapa mereka hanya berdua saja dan dimana Kasainta. Mereka menjawab dengan mengatakan bahwa Kasainta hilang di hutan dan tidak diketahui ke mana perginya. Mereka telah mencarinya hingga berjam-jam, namun Kasainta tidak ditemukan juga. Akhirnya mereka pulang untuk melaporkan bahwa Kasainta telah hilang di hutan.

Mendengar jawaban kedua anaknya yang dibuat-buat itu ayahnya sangat marah. Ia yakin bahwa puteranya mempunyai maksud yang jahat terhadap kemenakannya. Ayahnya mengancam akan membunuh kedua anaknya itu. Untunglah dapat dicegah oleh para tetangga yang pada saat itu sedang berkerumun di rumah Kasainta. Pada saat itu Kasainta dikeluarkan dari tempat persembunyiannya.

Melihat Kasainta tiba-tiba ada dihadapan mereka, kedua saudara sepupunya itu menjadi pucat, takut dan malu. Mereka tidak menyangka kalau Kasainta sudah lebih dahulu ada di rumah. Kedua kakak beradik itu sangat malu atas perbuatan dan kebohongan mereka yang telah diketahui oleh seisi rumah dan seisi kampung. Tak lain yang mereka lakukan hanyalah meminta ampun pada Kasainta atas segala perbuatan mereka yang keji dan kejam itu.

Sejak kejadian itu, oleh penduduk Desa Lolambi, Kasainta diberi julukan baru yaitu “Tau Niulaya Nu Bau” yang artinya “orang yang dibawa oleh ikan”.

Sumber:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Sulawesi Tengah. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Read full post »

Bolampa

0 comments
Pada zaman dahulu kala, di Desa Pulu Mempa hidup seorang anak bernama Bolampa. Ia adalah anak Raja Pulu sedangkan ibunya adalah puteri dari raja yang berada di kerajaan seberang lautan. Oleh karena Raja Bulu adalah seorang yang amat sakti, maka Bolampa pun secara tidak disadarinya, diberi ilmu kesaktian oleh ayahandanya. Ia menjadi kebal terhadap senjata apa pun dan mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.

Pada saat Bolampa baru berumur beberapa bulan, Raja Pulu merasa tertarik dan jatuh cinta kepada salah seorang pembantu yang ada di istananya. Ia pun lantas mengawini pembantu tersebut hingga akhirnya mempunyai seorang anak laki-laki lagi yang diberinya nama Paralu.
Semenjak Raja Pulu berpoligami dan menempatkan kedua isterinya dalam satu rumah, maka kehidupan keluarganya menjadi tidak harmonis. Kedua isterinya saling bersaing untuk memperebutkan kasih sayang dari Raja Pulu. Hal ini membuat Raja Palu menjadi tertekan jiwanya dan beberapa tahun kemudian akhirnya meninggal dunia. Waktu raja mangkat tersebut sebenarnya ibu Bolampa sedang mengandung anaknya yang kedua.

Sepeninggal raja, kedua jandanya tetap saja bersaing. Namun persaingannya bukanlah untuk memperebutkan kasih sayang Raja Pulu, melainkan untuk memamerkan keunggulan anak masing-masing dengan tujuan agar salah seorang diantaranya dapat menggantikan ayahnya menjadi raja. Dalam persaingan tersebut ibu Paralu-lah yang berusaha mati-matian agar anaknya dapat menggungguli Bolampa. Hal ini dilakukannya karena ia merasa khawatir sebab kedudukannya hanyalah sebagai isteri muda yang hanya berasal dari golongan rakyat jelata. Di samping itu, ia juga khawatir apabila tidak sedari dini memenangkan persaingan, nantinya Bolampa akan mengungguli anaknya sebab ia akan dibantu oleh adiknya yang saat itu masih berada di dalam kandungan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh ibu Paralu adalah dengan membelikan anaknya barang-barang perhiasan yang mahal harganya agar penampilannya terlihat gagah perkasa. Melihat saudara tirinya dibelikan perhiasan mahal, Bolampa menjadi iri dan segera meminta kepada ibunya, “Bu, belikan saya perhiasan yang sama seperti Paralu itu!”

“Anakku, janganlah kau samakan dirimu dengan Paralu. Ia hanyalah anak seorang hamba. Sedangkan dirimu adalah keturunan bangsawan. Jadi, walau tidak memakai perhiasan yang mewah, engkau tetap akan dinilai gagah dan dihormati oleh masyarakat,” jawab ibunya.

Namun, karena masih kecil dan tidak terlalu memahami makna kata bangsawan dan hamba, maka ia pun tetap merengek pada ibunya. Waktu itu yang terlintas di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat memperoleh perhiasan yang mewah, sehingga dapat tampil gagah seperti Paralu. Selama tiga hari berturut-turut ia merengek pada ibunya untuk segera membelikan perhiasan yang sama seperti Paralu.

Pada hari keempat, sekali lagi ia meminta pada ibunya untuk dibelikan perhiasan. Oleh ibunya, permintaan itu ditolak mentah-mentah sehingga membuat Bolampa menjadi jengkel dan sekaligus marah. Tanpa berkata-kata lagi Bolampa langsung pergi meninggalkan istana menuju ke Desa Sidiru di daerah Sibolga.

Selama berada di Siduru, kemarahan pada ibunya tersebut ditimpakan kepada teman-temannya. Ketika sedang bermain bersama teman-temannya dan terjadi suatu perselisihan, Bolampa cepat naik darah dan langsung memukul hingga banyak temannya yang tewas. Hal ini terus berlangsung selama beberapa minggu sehingga banyak anak di daerah Sidiru yang mati di tangan Bolampa. Penduduk Sidiru tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi Bolamba, sebab ternyata ia sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun, sama seperti ayahnya.

Melihat kawan-kawannya banyak yang mati dan sekaligus heran kenapa dirinya tidak dapat mati walau ditusuk oleh senjata tajam, maka Bolampa pun ingin merasakan kematian seperti yang dialami oleh teman-temannya. Ia lalu mendatangi segerombolan balaki (wanita yang kelaki-lakian) yang sedang berkumpul di rumah agat (baruga). Kepada kaum balaki yang berjumlah sekitar 70 orang itu, Bolampa berkata, “Hai kaum balaki, sanggupkah kalian membunuhku? Aku sudah ingin mati sekarang!”

Mendengar perkataan Bolampa tersebut, para balaki yang seluruhnya berasal dari Sidiru menjadi gembira. Orang yang selama ini mereka anggap sebagai pengganggu dan telah menewaskan banyak orang di Sidiru akhirnya berkeinginan untuk mati. Salah seorang diantara mereka kemudian bertanya pada Bolampa, “Lalu bagaimana caranya kami dapat membunuhmu? Engkau sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun.”

“Sekarang sediakanlah beberapa puluh buah kelapa dan letakkan di bawah pohon itu. Nanti aku akan meloncat dari atas pohon, dan setelah tubuhku mengenai buah-buah kepala itu kalian dapat langsung membunuhku,” jawab Bolampa.

Setelah buah kelapa disiapkan, maka Bolampa segera memanjat pohon dan melompat ke arah buah-buah kelapa tersebut. Pada saat tubuhnya mengenai buah-buah kelapa, para balaki segera membunuhnya dengan mudah. Setelah itu mayat Bolampa mereka bawa ke istana Raja Sidiru. Raja Sidiru kemudian memerintahkan pada para pengawalnya untuk memotong leher Bolampa dan menggantung kepalanya di tiang baruga (rumah adat). Sebelum digantung di baruga, kepala Bolampa diberi tanduk yang terbuat dari emas.

Pada saat Bolampa sedang meregang nyawa, hati ibunya bergetar hebat. Naluri keibuannya merasakan bahwa telah terjadi sesuatu terhadap anaknya. Oleh karena itu, ia segera menyuruh seorang penjaga istana menyiapkan seekor kerbau yang akan digunakannya sebagai kendaraan untuk mencari Bolampa. Hari itu juga, walau sedang hamil tua, ia berangkat meninggalkan Pulu menuju ke Sidiru.

Setibanya di wilayah Sidiru ia langsung menuju ke rumah Raja Sidiru. Saat melewati baruga yang letaknya tidak jauh dari rumah raja, ia melihat kepala anaknya tergantung di tiang baruga. Seketika itu juga hatinya menjadi hancur dan sangat marah terhadap penduduk Sidiru atas perlakuan mereka terhadap anaknya.

Sesampainya di depan rumah raja, ia langsung berteriak, “Mana Raja Sidiru?”

Mendengar teriakan orang di bawah rumahnya, Raja Sidiru segera turun dan berkata, “Saya Raja Sidiru.”

“Sampai hati kamu membunuh anak saya,” kata ibu Bolampa sambil menahan tangis.

“Anakmu sudah membunuh puluhan orang penduduk Sidiru,” jawab Raja singkat.

“Kurang ajar kamu semua di Sidiru ini. Termasuk kamu rajanya!” kata ibu Bolampa sambil menunjuk muka Raja Sidiru.

Ucapan itu diulanginya hingga tiga kali sehingga Raja Sidiru tersinggung dan mengancam akan membunuhnya. Namun, ancaman itu tidak membuat ibu Bolampa takut, ia malah semakin menjadi-jadi dan tetap mengulangi ucapannya hingga beberapa kali lagi. Raja pun menjadi benar-benar marah hingga akhirnya membunuhnya.

Setelah mati, raja memanggil penjaga baruga untuk menyimpan mayat perempuan yang sedang hamil tua itu dalam sebuah peti yang terbuat dari kayu yang keras. Beberapa hari kemudian, lahirlah bayi laki-laki yang sangat sehat dari rahim mayat tersebut. Bayi itu kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga baruga ke rumah Raja Sidiru.

Oleh Raja Sidiru bayi itu diberi nama Tuvunjagu lalu diserahkan kepada sepasang suami isteri warga Sidiru yang kebetulan sudah tua namun tidak mempunyai anak. Seakan mendapat durian runtuh, sepasang suami-isteri tersebut menerimanya dengan hati yang gembira. Dan, mulai sejak itu Tuvunjagu dirawat dan dibesarkan oleh kedua suami-isteri itu.

Saat usianya 10 tahun Tuvunjagu telah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Dan tanpa disadarinya, ia pun juga mewarisi kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya. Selain itu, ia mewarisi pula sifat Bolampa yang mudah sekali marah dan ringan tangan. Ia tidak segan-segan untuk memukul temanya sendiri hingga mati apabila terjadi suatu perselisihan.

Suatu hari, selesai membunuh temannya Tuvunjagu pulang dengan tangan yang berlumuran darah. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Melihat hal itu orang tua angkatnya diam saja karena sudah maklum apabila sifat Tuvunjagu mirip seperti sifat kakaknya. Saat Tuvunjagu mandi, mereka berbincang sejenak mengenai kelakuan anak angkatnya itu dan akhirnya bersepakat untuk mengungkapkan jati diri Tuvunjagu yang sebenarnya setelah makan malam.

Malam harinya, selesai makan malam ibu angkatnya bertanya, “Anakku, pernahkah engkau pergi ke baruga?”

“Ya. Saya sering bermain di sana, Bu,” jawab Tuvunjagu.

“Pernahkah engkau melihat sebuah tengkorak kepala yang digantung di sana?” tanya ibu angkatnya lagi.

“Ya,” jawab Tuvunjagu singkat.

Lalu ibu angkatnya mulai bercerita mengenai asal usul tengkorak kepala yang digantung di baruga itu. Ia bercerita mulai dari kisah Bolampa sampai Tuvunjagu lahir.

“Oh, jadi itu sebenarnya asal usulku, Bu,” jawab Tuvunjagu singkat. Namun, sejak saat itu hatinya dipenuhi rasa dendam yang sangat besar terhadap Raja Sidiru. Ia ingin membalas kematian ibu dan kakaknya yang telah dibunuh oleh Raja Sidiru. Dendam itu lama sekali dipendamnya hingga ia berumur 19 tahun dan telah menjadi pemuda yang gagah perkasa.
Suatu hari Raja Sidiru mengadakan pesta besar. Di dalam pesta itu diadakan tarian secara berpasangan yang dinamakan raego. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tuvunjagu untuk balas dendam terhadap Raja Sidiru. Ia lalu meminta izin pada Raja Sidiru untuk mengajak puteri sematawayangnya menari raego. Karena raja tidak tahu kalau Tuvunjagu akan berencana membalas dendam, maka ia pun mengizinkan puterinya untuk menari bersama Tuvunjagu.
Setelah itu, mereka pun segera menuju ke arena untuk menari raego bersama-sama penduduk Sidiru lainnya. Pada waktu sebagian orang sedang asyik menari dan sebagian lagi sibuk menikmati hidangan pesta, tiba-tiba Tuvunjagu menghunus pedangnya lalu memotong leher puteri raja itu hingga putus. Kemudian, ia berlari secepat kilat menuju Pulu, desa tempat orang tuanya. Sesampai di Pulu ia segera menuju ke baruga dan menancapkan kepala puteri raja Sidiru di tiang baruga Desa Pulu.

Beberapa saat setelah terjadi pembunuhan, suasana gembira ria berubah menjadi duka cita di kalangan penduduk Sidiru. Pesta pun segera dihentikan. Raja Sidiru langsung mengadakan pertemuan dengan pemuka masyarakat untuk merundingkan peristiwa pembunuhan itu. Dalam perundingan itu ada yang berpendapat bahwa Pulu harus diserang dan dihancurkan. Tetapi pendapat itu ditolak oleh sebagian besar pemuka masyarakat, sebab ketika Bolampa dan ibunya dibunuh, rakyat di Pulu tidak pernah datang dan menyerang Sidiru. Lalu timbul sebuah usul yang baik dan bijaksana agar Sidiru dan Pulu tidak saling berperang dan Tuvunjagu tidak datang lagi ke Sidiru. Usul tersebut adalah menyatukan Sungai Gumbasa dan Sungai Mio yang merupakan daerah perbatasan kedua desa sehingga menjadi lebar. Usulan itu ternyata diterima dengan baik oleh seluruh pemuka masyarakat, sehingga pada pagi harinya seluruh penduduk Sidiru dikerahkan untuk menyatukan aliran Sungai Gumbasa dan Sungai Mio. Dengan begitu, maka orang-orang di kedua desa tersebut akan sulit untuk saling bertemu dan sejak saat itu Tuvunjagu tidak pernah lagi datang ke Sidiru.

Sumber:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Sulawesi Tengah. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

http://uun-halimah.blogspot.com/search/label/cerita%20rakyat

Read full post »
 

Copyright © Indonesia Folk Tales Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger