Monday, December 22, 2008

Suri Ikun dan Dua Burung

0 comments
Suri Ikun seorang anak lelaki berbadan kurus yang tinggal bersama kedua orangtua dan tiga belas orang saudaranya di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pada suatu hari, Suri Ikun ditangkap oleh hantu dan disekap dalam sebuah gua. Bagaimana nasib Suri Ikun selanjutnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Suri Ikun dan Dua Burung berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia, ada sebuah keluarga petani yang mempunyai empat belas orang anak. Tujuh orang lelaki dan tujuh orang perempuan. Anak lelakinya yang paling muda bernama Suri Ikun. Ia seorang pemberani dan suka menolong. Berbeda dengan keenam kakak lelakinya, selain pendengki mereka juga penakut. Mendengar dengusan babi hutan saja mereka lari tungganglanggang. 

Untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan keempat belas anaknya, sang Suami sebagai kepala keluarga menanam umbi-umbian dan sayur-sayuran di kebunnya. Meskipun kebunnya cukup luas, hasilnya terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, karena tanamannya sering dirusak oleh kawanan babi hutan. 

Pada suatu malam, sang Suami mengajak istri dan ketujuh anak lelakinya bermusyawarah untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Wahai, Anak-anakku! Tentu kalian semua tahu bahwa kita hidup dari hasil berkebun. Untuk itu kita harus menjaga semua tanaman yang ada di kebun,” ungkap sang Ayah.

“Apa yang harus kami lakukan, Ayah?” tanya si Sulung.

“Begini, Anakku! Ayah akan menugaskan kalian secara bergiliran meronda di kebun untuk mengusir babi hutan,” kata sang Ayah.

Mendengar perkataan itu, ketujuh orang lelaki bersaudara tersebut terkejut. 

“Aduh, adakah cara lain yang dapat kami lakukan selain meronda, Ayah?” keluh si Sulung.

“Apa maksudmu, Anakku!” tanya sang Ayah.

“Maaf, Ayah! Saya sangat takut pada babi hutan,” jawab si Sulung.

“Iya, Ayah! Kami juga takut,” sambung lima orang anaknya yang lain serentak.

Sang Ayah menjadi bingung mendengar keluhan keenam anaknya tersebut. Sejenak, ia berpikir untuk mencari cara lain untuk mengusir babi hutan dari kebunnya. Suasana musyawarah keluarga pun menjadi hening. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Suri Ikun angkat bicara.

“Maaf, Ayah! Jika Ayah mengizinkan, biarlah saya sendiri yang meronda di kebun,” pinta Suri Ikun.

“Benarkah kamu sanggup meronda seorang diri, Anakku?” tanya sang Ayah.

“Benar, Ayah! Saya akan menangkap babi-babi hutan itu dengan panahku,” jawab Suri Ikun dengan penuh semangat.

Alangkah senangnya hati keenam kakak lelaki Suri Ikun, karena mereka terbebas dari sebuah tugas yang sangat berat. 

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan busur dan anak panahnya, berangkatlah Suri Ikun ke kebun seorang diri untuk meronda. Sesampainya di kebun, ia langsung berkeliling melihat keadaan kalau-kalau ada kawanan babi hutan yang sedang merusak tanamannya. Setelah beberapa saat berkeliling dan tidak menemukan seekor babi hutan pun, Suri Ikun beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Ketika sedang asyik duduk bersandar sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba tiga ekor babi hutan sedang melintas tidak jauh dari depannya. Ia pun segera bersembunyi di balik pohon tempatnya bersandar seraya menyiapkan anak panahnya. Pada saat ketiga kawanan babi hutan itu akan memakan tanamannya, ia pun segera menarik anak panahnya dari busurnya dan melepaskannya ke arah babi yang paling besar. 

“Siuuut.... deg...!!!” 

Anak panahnya tepat mengenai lambung kanan babi itu dan langsung terkapar di tanah. Sementara dua babi hutan lainnya langsung melarikan diri ke balik semak belukar. Suri Ikun segera menghampiri babi hutan yang sudah tidak bergerak itu. 

“Wah besar sekali babi hutan ini. Pasti dagingnya sangat lezat,” gumam Suri Ikun.

Dengan perasaan senang dan gembira, Suri Ikun pun segera membawa pulang babi hutan itu ke rumahnya. Oleh karena babi hutan itu sangat berat, sampai-sampai ia harus beberapa kali berhenti beristirahat dalam perjalanan. Sesampainya di rumah, ia pun disambut gembira oleh kedua orangtua dan saudara-saudaranya yang sudah lama menunggu. 

“Wah, kamu hebat sekali, Suri Ikun!” ucap si Sulung memuji.

Kemudian mereka pun segera memotong-motong dan memasak daging babi hutan itu. Setelah matang, si Sulung bertugas membagi-bagikan daging babi tersebut kepada saudara-saudaranya. Oleh karena sifatnya yang dengki, ia hanya memberi Suri Ikun bagian kepala babi itu, yang sudah tentu tidak banyak dagingnya. Begitulah seterusnya, setiap kali membawa seekor babi hutan hasil buruannya, Suri Ikun selalu saja mendapat bagian kepala. Meski demikian, Suri Ikun tetap merasa senang, karena hasil keringatnya dapat dinikmati oleh seluruh keluarganya.

Pada suatu sore, ayah mereka baru saja pulang dari mencari kayu bakar di sebuah hutan lebat yang letaknya cukup jauh. 

“Anak-anakku! Maukah kalian membantu, Ayah!” 

“Apa yang dapat kami bantu, Ayah?” tanya si Sulung penasaran.

“Gerinda Ayah tertinggal di tengah hutan. Maukah kalian pergi mengambilnya?” pinta sang Ayah.

Akhirnya, si Sulung pun mengajak keenam saudara lelakinya pergi ke hutan lebat itu. Pada saat sampai di hutan, hari sudah mulai gelap. Menurut cerita, hutan tersebut dihuni oleh para hantu rimba yang terkenal jahat. Suri Ikun berjalan mengikuti kakaknya menyusuri hutan lebat itu sambil menggendong busur dan anak panahnya. Oleh karena gelapnya malam, Suri Ikun tidak menyadari jika keenam saudaranya mengambil jalan lain yang menuju ke rumah. Sementara ia terus berjalan menyusuri hutan. Semakin lama ia pun semakin jauh masuk ke tengah hutan. Setelah menyadari ia ditinggal sendirian, ia pun berteriak-teriak memanggil keenam kakaknya. 

“Kakak... di mana kalian?” 

Berkali-kali Suri Ikun memanggil nama keenam kakaknya, tetapi tetap tidak mendapat jawaban. Namun, beberapa saat berselang, tiba-tiba terdengar suara aneh menegurnya. 

“Hei, Anak Manusia! Kini kamu tinggal sendirian. Tidak seorang pun yang bisa menolongmu, karena saudara-saudaramu telah meninggalkanmu.”

“Kamu siapa? Tampakkanlah wujudmu!” seru Suri Ikun sambil menyiapkan anak panah dan busurnya.

“Ha... ha... ha...!!! terdengar suara itu tertawa berbahak-bahak.

“Ketahuilah, Anak Manusia! Kami adalah hantu rimba penghuni hutan ini,” ujar suara itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba beberapa sosok bertubuh besar dan berwajah seram berdiri di sekelilingnya. Baru saja Suri Ikun hendak menarik anak panahnya, para hantu tersebut segera menangkapnya. Namun, mereka tidak langsung memakannya, karena ia masih terlalu kurus. 

“Sebaiknya kita kurung dulu anak manusia ini,” ujar pemimpin hantu rimba itu.

Akrhinya Suri Ikun dikurung di dalam sebuah gua. Setiap hari ia diberi makan secara teratur agar menjadi gemuk. Untungnya ada celah sehingga sinar matahari dapat memancar masuk ke dalam gua. Dari celah itu ia bisa melihat keluar.

Pada suatu hari, Suri Ikun melihat dua ekor anak burung di celah gua yang kepalaran. Oleh karena merasa iba, ia pun memberIkun sebagian makanannya kepada kedua anak burung itu. 

“Waaah, kasihan sekali anak burung ini ditinggal induknya,” iba Suri Ikun seraya menyuapi kedua anak burung itu. 

Begitulah seterusnya, setiap melihat kedua anak burung itu kelaparan, Suri Ikun senantiasa membagikan makanan kepada mereka. Beberapa bulan kemudian, kedua burung itu pun tumbuh menjadi besar dan kuat. Ajaibnya, kedua burung itu dapat berbicara seperti manusia.

“Terima kasih Tuan karena telah menolong kami,” ucap seekor burung.

“Ampun, Tuan! Jika kami boleh tahu, Tuan siapa dan kenapa dikurung dalam gua ini?” tanya seekor burung yang satunya lagi.

“Saya Suri Ikun, Sobat!” jawab Suri Ikun.

Setelah itu, Suri Ikun pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya sampai ia bisa berada di dalam gua itu.

“Baiklah, Tuan! Kami akan membebaskan Tuan dari gua ini,” kata seekor burung.

Alangkah senangnya hati Suri Ikun mendengar perkataan burung itu. Namun, hatinya masih diselimuti oleh rasa bimbang. 

“Wahai, Sobat! Bukankah hantu rimba itu berjumlah banyak dan sangat kuat? Bagaimana cara kalian menolongku?” tanya Suri Ikun ingin tahu.

“Tenang, Tuan! Kami pasti bisa mengalahkan mereka,” ujar seekor burung.

“Begini, Tuan! Kami akan menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh hantu-hantu itu,” jelas seekor burung yang satunya.

Mendengar penjelasan itu, Suri Ikun terdiam sejenak. Ia pun berpikir mencari cara agar bisa membantu kedua burung itu mengalahkan hantu-hantu tersebut. 

“Baiklah kalau begitu! Aku akan membantu kalian dengan senjataku ini,” kata Suri Ikun sambil menunjukkan panahnya. 

Keesokan harinya, hantu-hantu tersebut datang mengantarkan makanan untuk Suri Ikun. Pada saat mereka membuka pintu gua, dengan secepat kilat kedua burung itu langsung menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh mereka. Suri Ikun pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera meluncurkan anak panahnya ke arah hantu-hantu tersebut. Maka tak ayal lagi, para hantu itu pun terluka dan langsung kabur melarikan diri. 

Setelah itu, kedua burung tersebut segera membawa terbang Suri Ikun menuju ke puncak sebuah bukit yang tinggi. Sesampainya di sana, dengan kekuatan gaibnya, kedua burung tersebut menciptakan sebuah istana megah untuk Suri Ikun lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Di sanalah untuk selanjutnya Suri Ikun tinggal dan hidup berbahagia.

Sementara itu, nun jauh di kampung, keluarga Suri Ikun hidup menderita. Sejak kepergian Suri Ikun seluruh tanaman ayahnya habis dimakan dan dirusak kawanan babi hutan. Sebab, tidak seorang pun saudara lelakinya yang berani mengusir kawanan babi hutan tersebut dari kebun mereka. 

* * *

Demikian cerita Suri Ikun dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadIkun pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu keutamaan sifat saling tolong-menolong terhadap sesama makhluk dan akibat buruk dari sikap penakut. 

Pertama, keutamaan sifat saling tolong-menolong. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Suri Ikun dan dua ekor burung. Suri Ikun menolong kedua ekor burung tersebut dengan memberinya makan, sedangkan kedua ekor burung tersebut menyelamatkan Suri Ikun dari ancaman para hantu rimba. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat ini sangatlah dianjurkan, karena dapat menimbulkan rasa saling menghormati dan mengasihi serta saling menyayangi antara sesama makhluk, sehingga terbina kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan harmonis. Dikatakan dalam untaian syair Melayu:
wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadIkun azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat

Kedua, akibat buruk dari sifat penakut. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku keenam saudara lelaki Suri Ikun yang tidak berani meronda di kebun ayahnya, karena takut kepada babi hutan. Akibatnya, mereka pun hidup melarat, karena seluruh tanaman di kebun ayahnya dirusak dan dimakan babi hutan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu: 
takut ke laut, mati hanyut,
takut ke hutan, mati tak makan
 
siapa penakut, makan kentut
siapa pengecut, besarlah burut.

(Samsuni /sas/111/11-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari “Cerita Rakyat”, http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/default.htm, diakses tanggal 18 November 2008.
Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
-------. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian d
Http://melayuonline.com

Read full post »

Saturday, December 20, 2008

Watu Rere

0 comments
kisah dari So'a-Flores

Watu Rere adalah seorang perempuan. Waktu itu semua nona-nona di alam kampung berkumpul untuk pergi bekerja berkelompok. Dalam kelompok itu (untuk) bekerja kebun, mereka setuju : "Kalau orang lain pergi bekerja kebun, bekerja sewa, kita membawa nasi sayur".
Demikian juga kalau bekerja bergiliran (dengan) teman baik.
Waktu mereka akan bekerja untuk upah, mereka selalu membawa nasi, sayur dan santan kelapa.
Tetapi kalau bekerja sewa untuk Watu Rere, dia hanya membawa nasi jali dan sayur jelek.
Ketika si Watu Rere minta kepada mama dan bapak, kakak dan adik, maka mama dan bapak hanya memandang saja.
Apabila hasil oanenan berlimpah ruah, lalu dihantar dan disimpan di dalam rumah, maka segenap keluarga akan menikmati. Kalau dia memanggil (kelompok itu) untuk pergi ke kebun, si Watu Rere selalu hanya membawa makanan yang sama seperti setiap kali (yaitu) nasi jali dan sayur jelek.
Teman-temannya tidak marah," Sudahlah, teman bawa saja nasi jali yang baik, asal jangan mabuk."
Tetapi Watu Rere sangat susah hati.
"Apabila teman-teman membawa nasi beras dan sayur santan kelapa (biar) saya menarik diri saja".
Karena malu (karena) mama dan bapak tidak memberi (makanan yang baik" ia lalu meratap.

Watu Rere, Watu Rere
tanya mama, tanya bapak
tanya kakak, tanya adik
Watu Rere

Watu rere meratap, duduk di atas batu Loka Kedhu di sebelah atas. Biar teman-temannya menegur "O teman, jangan meratap, teman! Bawa nasi yang begitu, tidak apa-apa toh?" tetapi si Watu rere meratap terus saja.
Pada haru yang keenam, datanglah seorang laki-laki bernama Rere Wula, dia bertanya, "Kau menangisi apa?" Watu Rere menjawab "Saya ini menangis karena mama - bapak menolak saya, mengusir saya."
Katakan, bagaimana saya mau minta nasi untuk pergi kerja berkelompok dengan teman-teman. Mereka tidak memberi. Sekarang saya malu, saya menangis.
Pria itu menjawab, "Baiklah!" Sesudah itu laki-laki itu menghilang saja. Dia (Watu Rere) berbicara dalam dirinya, "Pemuda langit bernama Rere Wula"
Si Watu Rere terus saja merapat tetapi batu itu makin naik ke atas. Biar teman-temannya mengatakan: "Jangan, teman, kembali saja," tetapi dia tidak mau.
Sesampai di langit, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Semua bapak mertua, mama mertua menyalami Watu Rere.
"O, selamat pagi anak mantu, semuanya menyenangkan sekali".
Rere Wula sudah lebih dulu tiba. Waktu sudah seminggu, orang dari sini mengantar (Watu Lele) sampai ke langit. Semua orang di atas langit, mama, bapakmeretuanya, lalu menyiapkan belis, demuanya genanp. Kerbau, rantai emas, kambing dan domba, anjing, ayam dan kuda.
Sesudah itu Watu Rere bersama suaminya Rere Wula meluai turun mengantar belis.
Pintu langit terbuka, pada batu tadi akan terkumpul semua kerbau dan belis untuk datang mengantar kepada bapak dan saudara-saudaranya di bawah di bumi.
Sesudah itu Watu Rere bersama suaminya Rere Wula mulai turun mengantar belis.
Pintu langit terbuka (pada) batu tadi akan terkumpul semua kerbau (dan) belis (untuk) datang mengantarnya kepada bapak dan saudara-saudaranya di bawah bumi.
Setelah itu bapak dan saudara-saudaranya memberi "me'a".
Mulai makan-minum habis dulu (hewan) yang dibunuh tadi, lalu mengenakan (Watu Re'e itu) dengan macam-macam kain adat.
Mereka pulang kembali lewat watu itu, terus pulang lagi ke kampungnya di langit setelah mengantar belis.
Cerita ini dari orang Seso. Wate Re'e adalah gadis Seso. Pemuda langit namanya Rere Wula.
Sejak saat itu hingga sekarang kerbau dan kuda mulai berkembang di So'a.



Sumber: Punu Nange, cerita dari So'a, Flores. Diterbitkan Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan. Jakarta 1999
Read full post »

Legenda Ular Nepa

0 comments

Banyak cerita yang dituturkan oleh orang-orang yang datang membezuk. Adakalanya cerita itu menarik tapi tak jarang juga ada yang membosankan karena sudah sangat sering aku dengar dari orang lain. Pada umumnya cerita yang ditawarkan berkutat seputar success story dari orang-orang yang mengalami sakit khususnya patah tulang seperti yang aku alami ini, dan cerita-cerita tentang pahit getir kehidupan dari orang-orang yang pengalaman hidupnya lebih panjang dari pada aku.

Salah satu cerita yang menurutku sangat menarik dan meninggalkan kesan mendalam adalah kisah yang aku dapat dari seorang pemuda bernama Rofinus. Rofinus ini berasal dari Flores – NTT, bekerja sebagai driver di suatu perusahaan dan tinggal di rumah Wak Haji Fatma persis di depan rumahku.

Pada suatu siang dia menyempatkan diri datang untuk menengok keadaanku. Awalnya dia bercerita tentang pengalaman masa remaja – waktu dia masih di daerah asalnya Flores - dimana dia pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pecah pada tulang dahinya dan harus ditambal (entah ditambal dengan apa aku juga lupa bertanya). Untuk itu dia juga telah menghabiskan beberapa minggu di rumah sakit dan sudah bertemu dengan orang-orang yang mengalami kasus-kasus semacam patah tulang. Dari hasil ngobrol dengan orang-orang itu dia mendapat cerita bahwa di daerah itu ada seorang yang ahli mengobati patah tulang melalui cara-cara yang adikodrati, sebut saja bernama Opa Mundus (bukan nama sebenarnya – red.).

Sampai di sini aku masih belum tertarik, karena di sini pun banyak orang-orang berkeahlian semacam itu atau yang di Jakarta populer disebut sebagai “dukun patah”, sebut saja seperti Guru Singa, Haji Ilyas, dan dukun-dukun lain dari daerah Cimande. Namun yang begitu menyentuh bagiku adalah legenda tentang bagaimana Opa Mundus ini memperoleh keahliannya itu.

**********

Syahdan, puluhan tahun lalu ketika Opa Mundus masih remaja belia, dia ikut bersama rombongan pemburu dari desanya menuju hutan. Sebagaimana lazimnya di daerah itu, perburuan untuk mencari rusa atau babi hutan dilakukan serombongan laki-laki dewasa berjumlah belasan orang secara bersama-sama demi alasan keamanan. Mundus remaja adalah anggota termuda dalam rombongan itu. Demikianlah, pagi hari mereka berangkat dan sampai di hutan. Setelah mendirikan tenda mereka menugaskan Mundus tinggal di tenda sambil memasak makanan, lalu yang lain masuk ke hutan yang lebih dalam untuk memulai perburuan.

Hari itu rupanya mereka kurang beruntung, karena sepanjang siang tak satu rusa atau babi hutan pun yang berhasil mereka tangkap. Menjelang sore mereka menemuka seekor ular – yang menurut Rofinus – berdiameter sebesar bantal guling dan memiliki panjang 2-3 meter. Ular itu mereka sebut sebagai ular nepa dan sudah biasa dijadikan santapan oleh penduduk setempat. Maka ular nepa yang malang itu mereka tangkap dan bunuh, lalu menjelang malam mereka kembali ke perkemahan dimana Mundus telah menunggu sedari siang.

Malam harinya ular itu mereka kuliti lalu dipotong kecil-kecil, sebagian mereka panggang dan mereka jadikan menu makan malam. Sisanya mereka keringkan lalu disimpan. Setelah puas makan, mereka pun tertidur dibuai angin malam, diterangi cahaya bintang dan ditemani suara lirih burung hantu. Dan ketika matahari mulai bersinar esok pagi, mereka kembali melanjutkan perburuannya dan meninggalkan Mundus di perkemahan bersama sisa tulang-tulang ular nepa yang berserakan di sekitar tenda.

Pagi telah berganti siang ketika Mundus mendengar gemerisik suara daun kering. Semakin Mundus mengarahkan pendengarannya suara itu terdengar semakin kuat dan terkadang ditingkahi suara mendesis. Betapa terkejutnya Mundus ketika ia melihat seekor ular nepa seukuran ular yang telah mereka potong itu berjalan mendekat ke arahnya. “Tentu ini adalah teman nepa itu,” pikir Mundus, “Dan dia datang kemari untuk membalas dendam.”

Dengan jantung berdebar kencang Mundus lari dan memanjat pohon terdekat. Mundus mengamat-amati arah gerakan nepa itu kalau-kalau dia ikut naik mengejar ke pohon. Mundus tidak bisa membayangkan kalau nanti nepa itu akan datang bersama teman-temannya yang lain mengejarnya, pasti ia akan menjadi santapan nepa itu.

Namun apa yang dilihat Mundus sangat jauh dari bayangannya. Bukannya mengejar, nepa itu malah sibuk mengumpulkan sisa-sisa tulang yang berserakan itu dengan mulutnya. Setelah semua tulang itu terkumpul, kini ia mengobrak-abrik peralatan masak, dan memunguti semua potongan daging yang tersimpan di belanga. Setelah semua terkumpul, lalu nepa itu seperti mulai “merekonstruksi” potongan-potongan itu mulai dari kepala, badan sampai ekor, hingga akhirnya tersusun seperti seekor ular.

Mundus terus mengamati gerak-gerik nepa itu. Kini setelah semua potongan itu tersusun, nepa itu pergi ke semak-semak lalu mengambil sejenis daun-daunan dengan mulutnya, mengunyah daun-daun itu dan menaburi sepah-sepah kunyahannya ke atas susunan potongan daging nepa malang tadi. Dan setelah semua sepah ditaburi lalu nepa ini mulai menjilati dengan lidahnya. Merinding bulu roma Mundus melihat potongan daging tadi sedikit demi sedikit mulai menyatu dan lambat laun bergerak seiring gerakan lidah nepa itu menjilatinya. Sampai akhirnya seluruh potongan tubuh itu tersambung kembali dan berwujud seperti ular nepa utuh.

Kini nepa itu telah hidup lagi. Lalu kedua nepa itu mendekat terlihat seperti sendang berbicara dengan mesra. Kiranya nepa yang datang itu adalah pasangan nepa malang yang sudah dipotong-potong itu. Beberapa saat kemudian kedua nepa itu berjalan beriringan masuk kembali ke dalam hutan dan menghilang dari pandangan Mundus.

Takjub, takut dan haru memenuhi hati Mundus sehingga hilang kekuatannya untuk turun dari pohon itu. Sore hari ketika para pemburu itu kembali ke perkemahan baru dia berani turun dan menceritakan semua yang dilihatnya siang itu. Saat itu juga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perburuan.

Esok paginya mereka kembali ke desanya tanpa membawa hasil apa pun. Namun tidak bagi Mundus, kini ia telah memperoleh suatu penerangan budi yang memberinya kemampuan baru. Semenjak itu ia dikenal sebagai mengobati orang yang patah tulang melalui cara yang telah diajarkan oleh nepa itu.

Aku begitu terharu waktu Rofinus mengakhiri ceritanya. Tak sadar setetes bening membasahi sudut mataku. Terlepas dari benar atau tidaknya, legenda ini begitu mengesankan bagiku. Aku seperti baru mendapat suatu pencerahan. Bukan karena kini aku telah tahu cara mengobati patah tulang, tapi sungguh aku tersentuh dengan prilaku ular ini. Yang karena begitu besarnya cinta itu, ia sungguh kehilangan dan tidak rela jika pasangannya itu direnggut dari kehidupannya. Dan pada akhirnya cinta itu telah menang. Cinta lah yang mampu memulihkan si nepa malang itu.

Contoh yang ekstrim memang. Tapi kadang-kadang suatu pelajaran penting perlu diilustrasikan dalam contoh ekstrim. Jika ular saja mampu mencintai seperti itu, manusia seharusnya bisa lebih. Bahkan jauh lebih!

*******

Sumber : http://bona-amanitogar.blog.friendster.com/2005/11/tujuh-legenda-ular-nepa/

Read full post »

Friday, December 19, 2008

Suri Ikun dan Dua Burung

0 comments
Pada jaman dahulu, di pulau Timor hiduplah seorang petani dengan isteri dan empat belas anaknya. Tujuh orang anaknya laki-laki dan tujuh orang perempuan.

Walaupun mereka memiliki kebun yang besar, hasil kebun tersebut tidak mencukupi kebutuhan keluarga tersebut. Sebabnya adalah tanaman yang ada sering dirusak oleh seekor babi hutan.

Petani tersebut menugaskan pada anak laki-lakinya untuk bergiliran menjaga kebun mereka dari babi hutan. Kecuali Suri Ikun, keenam saudara laki-lakinya adalah penakut dan dengki. Begita mendengar dengusan babi hutan, maka mereka akan lari meninggalkan kebunnya.

Lain halnya dengan Suri Ikun, begitu mendengar babi itu datang, ia lalu mengambil busur dan memanahnya. Setelah hewan itu mati, ia membawanya kerumah. Disana sudah menunggu saudara-saudaranya.

Saudaranya yang tertua bertugas membagi- bagikan daging babi hutan tersebut. Karena dengkinya, ia hanya memberi Suri Ikun kepala dari hewan itu. Sudah tentu tidak banyak daging yang bisa diperoleh dari bagian kepala.

Selanjutnya, ia meminta Suri Ikun bersamannya mencari gerinda milik ayahnya yang tertinggal di tengah hutan. Waktu itu hari sudah mulai malam.

Hutan tersebut menurut cerita di malam hari dihuni oleh para hantu jahat. Dengan perasaan takut iapun berjalan mengikuti kakaknya. Ia tidak tahu bahwa kakaknya mengambil jalan lain yang menuju kerumah.

Tinggallah Suri Ikun yang makin lama makin masuk ke tengah hutan. Berulang kali ia memanggil nama kakaknya. Panggilan itu dijawab oleh hantu-hantu hutan. Mereka sengaja menyesatkan Suri Ikun.

Setelah berada ditengah- tengah hutan lalu, hantu-hantu tersebut menangkapnya. Ia tidak langsung dimakan, karena menurut hantu-hantu itu ia masih terlalu kurus.

Ia kemudian dikurung ditengah gua. Ia diberi makan dengan teratur. Gua itu gelap sekali. Namun untunglah ada celah disampingnya, sehingga Suri Ikun masih ada sinar yang masuk ke dalam gua.

Dari celah tersebut Suri Ikun melihat ada dua ekor anak burung yang kelaparan. Iapun membagi makanannya dengan mereka. Setelah sekian tahun, burung- burung itupun tumbuh menjadi burung yang sangat besar dan kuat. Mereka ingin mem- bebaskan Suri Ikun.

Pada suatu ketika, hantu-hantu itu membuka pintu gua, dua burung tersebut menyerang dan mencederai hantu hantu tersebut. Lalu mereka menerbangkan Suri Ikun ke daerah yang berbukit-bukit tinggi.

Dengan kekuatan gaibnya, Burung-burung tersebut menciptakan istana lengkap dengan pengawal dan pelayan istana. Disanalah untuk selanjutnya Suri Ikun berbahagia.

(Diadaptasi bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Suri Ikun and The Two Birds," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976).
Read full post »
 

Copyright © Indonesia Folk Tales Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger